Showing posts with label Cerpen Hensa. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Hensa. Show all posts

Monday, July 27, 2026

Lomba Cerpen

 

Kumpulan Cerpen Penulis Legendaris (Dokumen Pribadi). 

Kantin Kampus pada siang itu sangat ramai dengan para mahasiswa yang sedang menyantap makan siang. Hidangan di sini memang ramah bagi kantong para pelajar. 

Kendati begitu, menunya tidak kalah dengan restoran. Lihat saja ada nasi goreng, nasi ayam geprek, bakso, batagor, mie instan dan aneka minuman dari kopi sampai dengan jus buah yang segar. 

Suasananya juga sangat khas dengan hiruk pikuk percakapan siswa yang bebas penuh canda gaya kekinian dari Gen Z, memenuhi setiap ruangan di kantin itu. Tawa dan canda mereka menghangatkan ruangan kantin di tengah-tengah dengan suara dentingan beradunya sendok dan garpu di meja hidangan. 

Terlihat ada dua mahasiswi cantik tengah duduk saling berhadapan di pojok dekat meja kasir, menikmati makan siang. Mereka berdiskusi, sambil menyantap hidangan menu bakso yang kuahnya masih mengepul. 

"Non! Jadi ikut lomba cerpen?"Tanya Anita kepada sahabatnya. Noni hanya mengangkat bahu. Mengaduk baksonya yang masih panas. 

Noni, mahasiswi fakultas sastra ini kapok setiap ikut lomba cerpen selalu kalah, padahal dia menguasai teori tentang cerita pendek dan bagaimana kiat-kiat membuat cerpen yang baik. 

"Gue gak punya ide. Benar-benar blank . Lu sendiri gimana Nit?" Noni bertanya balik sambil menatap Anita yang sedang lahap menikmati baksonya. Bibirnya kepedasan oleh sambal yang memerahkan kuah bakso.  

"Enggak tahu juga sih. Tapi gak ada salahnya ikut saja, masalah menang kalah itu belakangan." Anita menjawab sambil senyum dengan mata berbinar. 

Gadis satu ini memang berbeda, Anita selalu berpikir positif dalam menyikapi sebuah masalah. Sedangkan Noni dalam menangani masalah bukan mencari solusi tetapi selalu menyalahkan keadaan.  

"Tadi malam gue udah dapat tokoh utamanya." Lanjut Anita. Mendengar ini Noni hanya menoleh sekilas, lalu dia kembali sibuk dengan santapan makan siangnya. 

"Terus ide cerita bagaimana?" tanya Noni tanpa menoleh karena gadis ini tetap asyik dengan ponselnya sambil mengunyah bakso. 

"Idenya buanyak Non. Gue suka cerpen-cerpennya Ahmad Tohari, mungkin dari sana gue ambil idenya. Atau gaya cerpen Danarto yang penuh mistis." 

"Nit. Bagusnya lu jangan ambil ide punya orang. Apalagi dari penulis beken . Lu harus punya ide sendiri dong." Kali ini Noni menatap sahabatnya dengan serius. 

"Ya nggak juga dong, ambil ide plek langsung dari mereka Non. Gue baca cerpen-cerpen mereka dan dari sana membuka pikiran untuk membuat cerpen dengan genre yang mirip. Gitu lho." 

"Iya sih boleh saja. Tapi kalau menurut gue bagusnya lu harus punya karya cerpen dengan karakternya sendiri, bukan karakternya Danarto, Ahmad Tohari atau Yanusa Nugroho atau siapa pun." Noni mulai serius mengajak adu argumentasi dengan Anita. 

Dua gadis Gen Z ini memang cocok masuk fakultas sastra Indonesia karena mereka kutu buku genre kesusastraan. Beberapa novel sudah mereka baca sampai tamat seperti karya-karya Tere Liye, Leila S Chudori, dan Dee Lestari. 

Istimewanya bukan novel-novel itu saja yang mereka lahap, juga termasuk novel-novel jadul seperti karya Ashadi Siregar, Marga T, Pramudya Ananta Toer. 

Bahkan gandrung juga novel karya Motinggo Boesye dan Eddy D Iskandar sampai dengan para penulis roman Pujangga Baru seperti Sutan Takdir Alisyahbana, Hamka, Armin Pane dan Marah Rusli. 

Selain novelis, mereka juga akrab dengan karya para cerpenis beken seperti Ahmad Tohari, Danarto, Yanusa Nugroho, Seno Gumbira Ajidarma, Umar Kayan dan AA Navis. 

Mestinya dengan ragam bacaan yang sudah mereka khatamkan, pasti mereka punya modal yang cukup untuk membuat cerpen yang nanti bisa diikutkan dalam lomba. Terutama Noni yang jauh lebih menguasai bagaimana kita-kiat membuat cerpen. 

"Yup Non! Ntar malam gue mau garap cerpennya untuk lomba. Terakhir batas pengirimannya besok kan?" Tanya Anita yang lalu diiyakan Noni. 

"Mungkin saya juga ingin mencoba melanjutkan ide yang sudah ada di kepala ini." Balas Noni. "Oh iya Nit. Jangan lupa ya lu jangan memulai cerpen dengan memperkenalan tokoh yang kaku. Gak jelas dekripsinya" Lanjut Noni dengan mantap meyakinkan Anita. 

Noni ini kalau bicara tentang teori membuat cerpen, dia sudah khatam hingga sekecil-kecilnya. Sosok mahasiswa sastra kutu buku dan menguasai ilmu sastra Indonesia ini benar-benar mendalami ilmu di dunia cerpen. 

"Lu juga harus ingat, paragraf pertama cerpen harus bisa langsung menarik perhatian pembaca. Misalnya lu harus membuat dialog yang bisa memancing rasa ingin tahu pembaca." Kata Noni. 

"Juga dalam cerpen sebaiknya pilih satu masalah saja yang dialami oleh tokoh utama. Agar bisa langsung menuju konflik para pelakunya. Pastikan masalah tersebut harus memiliki solusi yang masuk akal dalam ending cerpen." Lanjut gadis manis berkaca mata minus ini penuh semangat. 

"Siap Bu Noni!" Seru Anita sambil ngakak. “Lu kalau ngomongin cerpen udah seperti dosen saja, cerewet tahu.” Lanjut gadis tomboi ini di tengah tawa riangnya. Noni hanya memelototi Anita ketika dirinya dikatakan seperti dosen cerewet. 

"Satu lagi Nit! Lu harus menciptakan sentuhan akhir yang emosional dan jika perlu membuat plot twist . Bisa juga dengan membiarkan pembaca berpikir dan menyimpulkan sendiri." Kata Noni menambahkan. 

Lengkap sudah teori cerpen yang disarankan Noni bak Bu Dosen cerewet yang memberikan kuliah di depan kelas. Anita masih senyum-senyum dikulum menerima saran dan kiat-kiat bagaimana cara membuat cerpen yang baik versi sahabatnya itu. 

Besoknya mereka kembali bertemu di Kantin Kampus, sebelum mengikuti sesi kuliah jam 9 pagi. Kantin itu setiap pagi selalu penuh dengan siswa yang menikmati sarapan. 

Noni dan Anita duduk di meja paling pojok sambil menunggu pesanan Anita bertemu mie instan dan nasi goreng Jawa kesukaan Noni. 

Sementara itu kipas angin yang ada di dinding bertahan di atas kepala mereka, berputar malas seperti anak sekolah yang masih ngantuk, tapi tercapai putaran kipas masih bisa memberikan rasa dingin pada tubuh kedua gadis itu. 

Noni dan Anita duduk saling berhadapan. Mereka asyik menikmati hidangan sarapan yang masih hangat, sambil berbincang ringan tentang lomba cerpen yang mereka ikuti. 

"Tadi malam cerpen gue sudah upload dikirimkan ke panitia lomba di media sosial mereka. Gue sekedar ikut lomba saja gak berharap menang. Tahu dirilah, cerpen gue masih recehan. Terus cerpen lu gimana Non?" tanya Anita. 

"Nah itu Nit. Tadi malam gue ketiduran cerpen belum jadi sampai sekarang." Ujar Noni senyum-senyum sambil memperbaiki letak kaca mata minusnya. Anita ngakak mendengar penjelasan sahabatnya ini. 

Bagi Anita hari ini kembali menemukan bukti bahwa sebanyak apapun teori dan kiat-kiat bagaimana membuat cerpen, percuma saja jika tanpa ada aksi nyata. Gadis ini sudah hafal dengan Noni, sahabatnya yang hanya pandai berteori tetapi tidak pandai membuat cerpen. Apalagi mau ikut lomba. 

Salam literasi @hensa17. 

***** 

Tuesday, May 7, 2013

CintakuDibalikBuku Episode 2


Malam itu bagi Bayu sungguh kenangan yang sangat indah. Untuk yang pertama kali Intan berkunjung ke rumahnya. Belum pernah sebelumnya. Teman-teman wanita lain sudah biasa berkunjung ke rumah Bayu. Ada yang hanya sekedar cari alasan saja atau memang ada juga yang mau belajar bersama. Namun malam yang indah ini bagi Bayu adalah malam yang tak akan terlupakan karena belajar bersama Intan Permatasari pujaannya.
Sejak kedatangan Intan yang pertama kali ke rumah Bayu itu kesan mendalam sangat dirasakan oleh keluarga Bayu terutama ibunya.
“Bayu orang seperti Intan mau berkunjung ke gubuk kita yang jelek ini rasanya seperti mimpi!”, kata ibunya.
“Iya Bu tadi malam itu Bayu saja kaget kok Intan mau berkunjung ke rumah!”,kataku.
“Intan itu anak orang kaya, cantik, ramah dan rendah hati. Ibu sangat menyukai gadis itu. Kalau berbicara tutur katanya begitu sopan!”, kata ibunya Bayu penuh dengan kesan kagum terhadap Intan.
“Alhamdulillah Bu!. Bersyukurlah Bayu punya sahabat sebaik Intan!”, kataku.
“Bayu menurut Ibu, kelihatannya Intan itu naksir sama kamu. Ibu sih setuju saja tapi tidak tahu bagaimana dengan orang tuanya Intan. Kita kan hanya keluarga biasa!”, kata ibunya Bayu.
“Ah Ibu ini ada ada saja ya tidak mungkinlah Intan mau sama Bayu!”,kata Bayu.
Sebenarnya dalam hati Bayu kekhawatiran ini sering dia rasakan. Mana mungkin Intan mau menyambut cintanya. Andai saat ini Intan sering belajar bersama maka itu hanya semata mata untuk urusan pelajaran sekolah saja. Hal itu juga sama dengan yang dilakukan oleh teman-teman wanitanya yang lain.  Bagi Bayu hanyalah mimpi untuk mendapatkan cinta seorang Intan Permatasari.
Bayu ingat hari Minggu yang lalu ketika itu ia baru saja pulang memberikan les privat matematika dari kawasan Batununggal, secara tidak sengaja Bayu bertemu Intan di Lampu Merah perempatan Batununggal-Soekarno Hat-ta. Intan dari mobilnya menyapa Bayu terlebih dulu.
“Hai Bayu! Darimana nih?”, sapa Intan.
“Hai Intan, ini aku baru memberi les privat!”, jawab Bayu. Mereka hanya sebentar saja bertegur sapa karena lampu hijau sudah mulai menyala.  Bagi Bayu pertemuan itu adalah hal yang menegaskan bahwa Intan memang sudah punya pacar karena saat itu Intan ditemani seorang pria yang duduk dibelakang kemudi BMW hitamnya. Bayu melihat sekilas pemuda itu gagah, kelihatan ramah bahkan saat itu sempat melempar senyumke arah Bayu. Usianya kira-kira lebih tua satu atau dua tahun dari Bayu mungkin saat ini sedang kuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Bandung.
Buku Harian kecil berukuran 10 x 14 cm dengan tebal 3 cm tergeletak di atas meja belajar. Malam itu Bayu mulai mengisinya dengan curahan hati yang ia rasakan hari ini menjadi catatan lembar demi lembar. Bagaimana Bayu harus menghadapi kenyataan cintanya harus ditepikan oleh keadaan.
 “Aku memang harus reslistis terhadap semua keadaan. Aku harus tahu diri dan tidak perlu berharap terlalu muluk. Aku mencintai Intan namun ternyata tidak cukup hanya sekedar cinta yang harus kumiliki karena aku tidak memiliki hal yang lainnya. Cinta harus dibarengi dengan kesetaraan…..”
Demikian salah satu curahan hati Bayu di Buku Hariannya. Pemuda ini punya pemikiran yang logis juga bahwa cinta memang harus dibarengi dengan kesetaraan. Bayu berfikir tentang kesetaraan status sosial. Namun dengan mencoba berfikir seperti itu, apakah Bayu bisa meredam gejolak cintanya kepada Intan. Ternyata tidak sesederhana yang diucapkan. Beberapa hari terakhir ini Bayu semakin galau apalagi hampir setiap hari Bayu melihat Intan diantar dan dijemput oleh Pemuda yang tempo hari bertemu di lampu merah itu. Belakangan Bayu tahu pemuda itu bernama Royke ketika mereka diperkenalkan oleh Intan dipelataran parkir Sekolah.
Intan dan Royke memang pasangan yang sangat serasi. Jika mereka saling mencintai maka lengkaplah sudah cinta mereka dengan kesetaraan yang utuh. Ya Allah maafkan aku andai aku ingin bertanya mengapa Engkau begitu mencintai hamba-hambaMu padahal Engkau memiliki nilai kesetaraan yang terlalu tinggi untuk dijangkau. Betapa aku mencintai Intan namun aku tidak bisa memberikan imbangan kesetaraan kepadanya. Andai Intan tahu aku mencintainya namun hanya satu ketakutanku akan penolakkannya”.
Kembali keresahan hati Bayu tertuang di atas lembar-lembar Buku Hariannya.
Hari ini seperti pulang sekolah Bayu menuju tempat parkir sepeda motor. Tiba-tiba terdengar ada suara memanggil namanya. Ternyata Intan berlari kecil menuju ke arah Bayu.
“Bayu apakah kamu keberatan jika aku minta diantar pulang?. Mobil jemputanku dipakai Ibu!”, kata Intan penuh harap.
“Royke juga tidak menjemputmu?”, tanya Bayu sedikit menyelidik. Intan tersenyum mendengar nada pertanyaan Bayu.
“Roy ada kuliah siang ini jadi tidak bisa jemput juga. Bayu tak apa apa kok kalau kamu keberatan!”, kata Intan pura pura merajuk.
“Oh enggak apa apa Intan. Aku bersedia mengantar-mu !”, kata Bayu gugup.
Akhirnya Intan ikut berboncengan di sepeda motornya Bayu. Di Gerbang pintu depan sekolah mereka berpapasan dengan Maya, Linda dan Rere. Teman-teman dekatnya Intan ini sempat pula menggoda Bayu dan Intan.
“Suit suit suit Romeo dan Juliet naik sepeda motor antik !”, seloroh mereka.  Bayu dan Intan pun hanya tertawa mendengar ocehan mereka.
Sepeda motor Bayu meluncur ditengah-tengah ke-ramaian lalu lintas Kota Bandung. Jalan Martadinata sudah dilalui dengan lancar terus menuju jalan Buah batu – Soekarno Hatta dan ber akhir di Batununggal. Kawasan Perumahan Batununggal ini memang sangat eklusif dengan sistem satu pintu. Di sanalah Intan Permatasari tinggal bersama kedua orang tuanya. Rumah Intan kelihatan asri, hijau dengan taman di halaman depan yang membuat hati menjadi sejuk. Rumahnya luas sekali. Bayu baru pertama kali berkunjung. Kawasan perumahan ini memang untuk mereka dengan kalangan atas. Bayu dipersilahkan menunggu di ruang tamu yang bersih, rapi, sejuk karena ber AC. Lukisan dan foto foto keluarga terpampang di dinding menambah suasana kekeluargaan. Bayu melihat ada Foto yang menarik perhatiannya yaitu Foto Intan berdua dengan Royke. Oh Tuhan benar-benar mereka rupanya pasangan yang serasi. Bayu melihat foto mereka begitu mesra sehingga Bayupun berfikir jangan-jangan mereka sudah bertunangan.
Bayu semakin menyadari siapa dirinya sebenarnya. Begitu banyak perbedaan antara dia dengan Intan. Kadang-kadang dalam hatinya Bayu bertanya-tanya mengapa dia tidak dilahirkan ditengah tengah keluarga yang mencukupi, namun setelah menyadari segera diapun mengucap istigfar. Bayu sadar tidak boleh dia menyesali takdirnNya. Bayu harus ikhlas menerima takdirNya.
“Hai Bayu kok melamun. Ayo diminum dong!”, suara Intan mempersilahkan. Di ruang tamu itu, Bayu terbangun dari lamunannya.
“Eh iya Intan terima kasih!”, Kata Bayu sambil menyentuh gelas berisi Orange dingin itu. Rasa segar menyentuh tenggorokan. Alhamdulillah minuman dingin ini telah menyejukkan hati Bayu ditengah terik matahari.
Mereka berbincang di ruang tamu itu dengan akrab. Pembicaraan tidak jauh dari pelajaran sekolah dan cita cita nanti setelah lulus SMA mau masuk Perguruan Tinggi mana. Ujian Nasional tinggal di depan mata. Sedang asyik mereka mengobrol tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di carport depan. Tak lama kemudian Royke muncul. Bayu merasa kikuk juga melihat kedatangan Royke.
“Hai rupanya ada Bayu sudah lama?”, sapa Royke sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalam-an. Pemuda yang sopan dan ramah, pikir Bayu.   
“Iya Mas sudah lama, tadi aku diminta antar Intan pulang karena gak ada yang jemput!”, kata Bayu.
“Terima kasih Bayu ya. Memang aku tadi tidak bisa jemput Intan bentrok dengan jadwal kuliahku. Sekali lagi terima kasih Bayu!”, kata Royke ramah. Bayu merasakan keakraban yang tulus dan Bayu merasa bersyukur Intan punya pacar seperti Bayu. Hanya beberapa saat kemudian Bayupun segera berpamit-an. Dalam perjalanan pulang banyak rasa gundah dirasakan Bayu.