Monday, February 20, 2012

NOVEL CORNER

EPISODE 1
DAISY LISTYA

Nama gadis itu Daisy Listya. Teman-teman memanggilnya cukup dengan Lis. Namun ada juga yang memanggilnya Sisi dari Daisy atau Tya dari Listya. Aku sendiri lebih suka memanggilnya dengan Listya atau Lis. Kata teman-temannya, Daisy Listya adalah nama yang indah. Mudah diingat, bukan saja karena nama yang hanya dua kata tapi konon kata mereka gadis ini memiliki aura kecantikan yang berkepribadian. Memiliki karakter yang kuat dalam berprinsip. Penampilan fisik yang alami dengan postur yang sangat proporsional yang menjadi impian gadis-gadis seusianya. Bahkan kata teman-teman prianya dia masih nampak sexy walaupun seluruh tubuhnya sudah dibalut dengan jilbab dan baju muslim yang lengkap. Memang dasar lelaki pikiran pikirannya selalu ngeres. Gadis ini termasuk periang. Usianya masih 21 tahun. Saat ini masih kuliah di Fakultas Farmasi Semester 8 pada sebuah Perguruan Tinggi Negeri Terkenal di Surabaya. Dari pengakuannya Daisy Listya adalah gadis kelahiran kota apel Malang berasal dari keluarga sederhana memiliki seorang adik perempuan yang masih duduk di bangku SMP. Ayahnya hanya seorang pegawai negeri sipil sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Namun demikian gadis ini memiliki prestasi akademik yang sangat mengesankan. Indeks Prestasi Kumulatif terakhirnya adalah 3,81 dari skala 4. Luar biasa. Ya Daisy Listya adalah mahasiswi bimbinganku dalam menyelesaikan skripsi S1 nya. Tepatnya sejak mulai semester 5 gadis ini selalu aktif mengikuti kuliah-kuliahku.

Memang seperti apa yang dikatakan mereka Daisy Listya adalah gadis yang istimewa. Jika berbicara tutur katanya sangat ramah dan santun. Walaupun gadis ini periang tapi bukan berarti bicaranya banyak bahkan dia hanya berbicara hal-hal yang perlu saja. Setiap perbincangan dengannya selalu mengandung hikmah kebaikan. Sungguh luar biasa gadis ini. Berbincang-bincang dengannya sangat menyenangkan, betah berlama-lama dan anehnya membuat hati menjadi tentram. Sudah sejak lama memang Daisy Listya adalah mahasiswiku yang spesial dibandingkan dengan mahasiswi-mahsiswiku yang lain. Selama 20 tahun aku menjadi Dosen di fakultas ini baru kali ini aku menemukan mahasiswi yang sangat istimewa seperti Daisy Listya.
Saat ini pada usiaku yang 45 tahun rasanya untuk pertama kalinya hati ini mulai terbuka lagi setelah 20 tahun yang lalu aku kehilangan Diana Faria gadis yang sangat kucintai karena kecelakaan lalu lintas. Diana dan Daisy memang berbeda namun ada satu kesamaan diantara mereka yaitu kelembutan hatinya tercermin dari sikap sehari-harinya. Dari latar belakang keluarga juga bagai langit dan bumi. Diana berasal dari keluarga berada berpendidikan. Ayahnya adalah Direktur sebuah perusahaan kosmetik di Bogor. Ibunya wanita asal Lebanon dari kalangan berada. Namun hal itu tidak menjadikan Diana menjadi gadis yang glamour. Diana adalah gadis sederhana sama seperti Daisy. Saat itu setelah dirawat intensif karena kecelakaan itu rupanya Diana tidak bisa ditolong. Dia menghembuskan nafas terakhirnya persis seminggu sebelum hari pernikahan kami. Sungguh saat itu duka nestapa yang sangat mendalam harus aku jalani setiap hari. Sejak itu aku menjadi orang yang tertutup terhadap wanita entahlah Diana bagiku adalah cinta pertamaku yang seolah-olah cinta itu dibawanya pula ke alam baka. Namun alhamdulillah pelarianku saat itu pelarian yang positif yaitu fokus terhadap karirku sebagai dosen. Aku sempat mengambil pendidikan S2 dan S3 di Australia selama 8 tahun. Pada usia 34 tahun gelar S3 bisa kuraih dan di Fakultasku saat itu aku punya predikat Doktor Farmasi paling muda usia. Hanya dalam waktu tidak sampai 5 tahun predikat Profesor bisa kuraih pada usia 40 tahun. Alhamdulillah prestasi ini adalah hasil kerja keras yang sebenarnya akibat pelarian dari duka nestapa yang berkepanjangan karena ditinggal orang yang sangat kucintai.
Rasanya suatu keajaiban jika Daisy Listya telah mampu mencairkan hatiku yang sudah 20 tahun membeku. Sungguh suatu keajaiban. Setiap bertemu Listya ada rasa semangat dan gairah lagi seperti dulu semasa kebersamaanku dengan Diana Faria. Entahlah ini gejala apa namanya namun aku tetap harus bersyukur dan jangan terlalu berharap banyak apakah Daisy Listya akan menyambut cintaku. Tentu dong harus aku sadari usianya yang baru 21 tahun mungkin seusia anakku jika saat itu aku jadi menikah dengan Diana. Usianya kurang dari separuh usiaku. Aku memang tidak terlalu berharap lagi pula gadis cantik seperti Listya mana mungkin belum punya pacar. Biarlah sementara ini aku hanya bisa menikmati kegairahan hidupku muncul kembali. Biarlah untuk sementara aku merasakan kebahagiaan yang dulu pernah kumiliki. Biarlah setiap aku bertemu Listya hatiku terasa damai tentram karena mendengar tutur kata lembut gadis ini begitu mempesona.

(BERSAMBUNG)

No comments: