Foto : Cover Novel Kemarau Panjang Di Kota Hujan
Bagian 11
KINANTI BUKALAH PINTU HATIMU
Suasana Ruang ICU sebuah Rumah Sakit di Malang itu sunyi senyap. Aku
melihat Rizal Anugerah terbaring lemah. Ada komplikasi serius pada ginjal hasil
cangkokkannya. Sudah hampir sepekan ini Rizal di rawat dan dua hari terakhir
ini kondisinya tidak sadarkan diri, sangat memprihatinkan. Sebenarnya ada
rencana untuk kembali di bawa ke Mount Elizabeth Hospital Singapore, dimana
dulu dilakukan operasi cangkok ginjalnya, namun kondisi Rizal yang tidak
memungkinkan melakukan perjalanan ke sana. Aku memang baru menyempatkan diri
menjenguk Rizal, suami Listya ini pada Jumat sore. Rasa prihatin yang mendalam
untuk Listya yang sedang mengalami cobaan ini. Alhamdulillah aku melihat Listya
begitu tabah menghadapi ujian ini.
”Pak Alan terima kasih. Mohon doanya untuk kesembuhan Mas Rizal!”, kata
Listya penuh kesedihan.
”Iya Lis semoga Mas Rizal diberikan kesembuhan seperti sediakala. Listya
harus sabar ya!”, kataku memnenangkan.
”Terimakasih Pak Alan!”, suara Listya terharu.
Tidak banyak yang aku bicarakan dengan Listya di Rumah Sakit itu sampai
akhirnya aku harus pamit karena hari sudah menjelang malam apalagi besok pagi
aku berniat ke Bandung menjumpai Kinanti dengan penerbangan pagi hari.
Rasanya jarak Surabaya – Bandung semakin dekat saja. Apalagi jarak hatiku
dengan Kinanti seolah semakin tidak berjarak saking dekatnya. Akhir-akhir ini
memang aku bisa merasakan betapa dekatnya hati Kinanti seakan kapan saja aku
bisa mengetuk pintu hatinya. Ya kapan saja aku bisa mengetuk pintu hatinya
namun hingga saat ini masih belum terbuka. Aku hanya bisa mendengar ada sapaan
lembut dari dalam sana. Teringat kembali
dengan apa yang pernah dikatakan Kinanti dalam sebuah sms :
”Daisy Listya adalah cinta sejatimu
walaupun mungkin tidak bisa kau raih namun andaikan aku harus menggantikan
cinta Daisy Listya adalah hal yang tidak bisa disetarakan!”.
”Itulah sebabnya aku tidak bisa
memenuhi keinginan Listya agar aku menikah denganmu!”.
”Alan ada yang perlu kau ketahui
bahwa sebenarnya Intan, putriku, lebih merestuimu dari siapapun untuk menjadi
teman hidupku. Namun alasan-alasan di atas itu yang membuat aku harus memberi
keputusan yang lain!”.
Apakah saat ini Kinanti masih tetap bersikukuh seperti itu?. Apakah Kinanti
masih akan tetap menganggapku hanya seorang sahabat?. Jika melihat gelagat dan
sinyal sinyal yang diberikan Kinanti padaku akhir-akhir ini nampaknya ada
setitik harapan. Walaupun harapan itu hanya setitik tapi tetap saja itu sebuah
harapan. Aku harus bisa membuka tabir yang membelenggu cintanya. Aku yakin
Kinanti mencintaiku walaupun dia menganggap cintanya tidak bisa disetarakan
dengan cinta Listya. Sikap ini membuatku bertambah mengaguminya karena cinta
Kinanti memang memiliki keagungan sendiri walaupun aku selalu menganggap cinta
kedua wanita ini begitu luhur penuh dengan ketulusan. Satu hal yang membuatku
semangat adalah Intan, putri satu-satunya yang selalu mendukungku untuk bisa
menyunting Ibunya. Ini artinya aku sudah membuka satu kunci dan tinggal
mendorong pintunya untuk terbuka. Jika pintu hatinya sudah terbuka maka aku
bisa masuk ke sana untuk mengisinya dengan cintaku yang tulus.
Malam Minggu di kota Bandung dengan langit yang cerah secerah hatiku.
Selepas Magrib tadi aku sudah meluncur menuju Arcamanik tempat kediaman Kinanti.
Ketika aku tiba di sana, aku disambut Kinanti dengan penuh suka cita. Rasanya
seperti wakuncar jaman SMA dulu he he he. Kinanti malam ini begitu anggun dengan
wajah ceria di balut jilbab warna pink. Matanya yang indah itu berbinar dan
senyum manisnya selalu menghiasi bibirnya. Sambutan Kinanti malam ini begitu
istimewa. Allah Maha Besar, Maha Pencipta yang telah menganugerahkan kecantikan
kepada Kinanti Puspitasari. Di ruang tamu itu aku hanya tertegun takjub
memandang begitu anggunnya Kinanti.
”Alan! Jangan memandangku terus seperti itu dong!”, kata Kinanti tersipu
saat aku memandanginya tak berkedip.
”Kinanti, mau bagaimana lagi aku, karena kamu cantik sekali. SubhanAllah!”,
kataku tulus. Kinanti tersenyum penuh arti dengan rasa senang dan tersanjung.
”Sudahlah. Jangan membahas kecantikan. Apalagi pujian untuk kecantikan.
Pujilah yang telah menciptakan kecantikan itu!”, suara Kinanti mengingatkan.
”Segala Puji bagiMu yang telah menciptakan mahluk bernama Kinanti
Puspitasari yang sekarang duduk di depanku. Sungguh telah membuatku terpukau
tak berkedip!”, kataku serius.
”Alhamdulillah!”, kata Kinanti tersenyum. Suasana yang sangat indah.
Ruangan jadi penuh dengan senyum dan canda. Malam Minggu yang sangat istimewa
bagiku. Topik pembicaraan dengan Kinanti masih seputar sakitnya Rizal, suami
Listya.
”Alan tadi malam Listya telepon bercerita tentang kunjunganmu ke Rumah
Sakit itu. Listya sangat terharu atas kedatanganmu!”, kata Kinanti.
”Iya waktu itu aku lihat Listya begitu tabah walaupun kondisi Rizal sangat
kritis. Kita hanya bisa berdoa untuk kebaikannya juga ketabahan Listya!”,
kataku. Kinanti mengangguk.
”Banyak cerita yang diutarakan Listya malam itu. Aku sangat kagum atas
ketabahannya menerima ujian ini!”, kata Kinanti.
”Ujian dari Allah itu akan membuat kita semakin tinggi derajatnya. Untuk
naik kelas kita butuh ujian...!”, kataku seolah berbicara untuk diri sendiri.
Ya menghadapi Kinanti bagiku juga termasuk ujian yang harus aku hadapi
dengan penuh perjuangan. Tidak boleh menyerah aku harus yakin bisa menundukkan
hati Kinanti Puspitasari.
”Alan mudah-mudahan ujian ujian dariNya semakin membuat kita semakin
menjadi hambaNya yang sabar dan tegar!”, kata Kinanti.
”Ya Kinanti mudah-mudahan aku juga bisa selalu sabar dan tegar menunggu dan
menunggu calon istriku datang kepadaku!”, kataku mulai memancing di air bening.
”Alan seharusnya calon istri itu bukan datang kepadamu tapi dijemput
olehmu!”, kata Kinanti.
”Oh dijemput?. Ya sudah atuh aku harus menjemputnya. Kapan ya dia bersedia
dijemput?”, kataku mulai membidik sasaran. Kinanti tersenyum dan nampaknya dia
tidak mau terpancing.
”Ya tanya sendiri saja kepadanya. Mana aku tahu!”, kata Kinanti pura-pura
ketus. Aku hanya tertawa sambil angkat bahu. Walaupun Kinanti tidak terpancing
namun aku bisa merasakan adanya sinyal bagiku untuk saatnya aku mencoba lagi
mengetuk pintu hatinya.
Akhirnya dialog tentang calon istri itu harus terputus karena tiba-tiba saja
terdengar suara seseorang mengucapkan salam. Ternyata Intan sudah berdiri di
pintu itu sambil menyapa kami yang ada di ruang tamu. Kata Kinanti setiap Sabtu
sore menjelang malam biasanya Intan baru tiba di rumah dari Kampus Jatinangor.
”Ayah Alan rupanya sudah datang!”, kata Intan menyapaku sambil bersalaman
mencium tanganku.
”Iya. Rupanya nanda Intan juga baru pulang dari Kampus nih!”, tanyaku.
”Ya Ayah ini terlambat agak malam biasa macetnya Bandung sulit diprediksi.
Malah biasanya kalau macetnya parah lebih malam lagi sampai rumah”, kata Intan.
Lalu mata Intan tertuju memandang Ibunya dan bersalaman mencium tangan Ibunya.
Gadis manis yang sedang mekar ini mulai menggoda Ibunya.
”Ibu aduh malam ini cantik sekali!.
Pasti ada yang istimewa nih kalau Ibu secantik ini”, kata Intan menggoda sambil
matanya berkedip kepadaku.
”Iya dong Intan gimana sih kamu ini!”, kataku sambil tertawa sementara
Kinanti hanya terdiam. Sang Ibu mulai memelototi anak gadisnya sambil pura-pura
cemberut.
”Ibu sungguh lho aku ini bicara jujur Ibu malam ini cantik sekali pasti Om
Alan juga setuju!”, kata Intan semakin menggoda Ibunya.
”Intan!, sudah ayo masuk sana baru datang sudah ngeledek!”, suara Kinanti
agak kesal. Intan tertawa kecil sambil berlari kecil masuk ke dalam rumah.
Sementara aku hanya tertawa dan Kinanti tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Pembicaraan semakin hangat dan canda tawa seperti biasa menambah kehangatan
malam Minggu bersama Kinanti. Aku merasakan suasana seperti sedang wakuncar
(wajib kunjung pacar) jaman ABG dulu. Sewaktu SMA dulu jika aku berkunjung ke
rumah Kinanti selalu bersama teman-teman yang lain. Biasanya ditemani Indra,
Aini dan Erika. Kami saat itu bersahabat sangat akrab.
”Kinan apakah suka kontak dengan Indra,Aini?. Atau Erika?” tanyaku.
Tiba-tiba saja aku ingin membuka kembali lembaran SMA dulu.
”Aini ada di Bogor masih sering kontak melalui hand phone namun Erika sudah
lama tidak pernah kontak. Terakhir aku mendengar khabar Erika tinggal di
Medan!”, kata Kinanti.
”Aku juga pernah ketemu Indra sewaktu ada acara seminar di ITS Surabaya
tempo hari. Ah rasanya ingin kumpul bareng mereka lagi ya!”, kataku.
”Iya masa masa indah saat kumpul bareng mereka sulit dilupakan!”kata
Kinanti.
”Namun bagi aku yang sulit dilupakan adalah ketika Kinanti Puspitasari menolak
cintaku!”, kataku bercanda sambil cekikikan. Mendengar ini Kinanti kelihatan
cemberut.
”Tidak apa apa Kinan memang saat itu wajarlah kalau aku harus menerima
penolakanmu. Maklumlah Alan Erlangga saat itu seorang pemuda yang bengal!”,
kataku tertawa lepas.
”Sudahlah Alan jangan sekali-sekali singgung soal itu lagi. Tutup saja masa
lalu yang tidak perlu dikenang dan sebaiknya menatap ke depan!”, kata Kinanti.
”Kinanti maafkan aku. Bukan bermaksud mengungkit masa lalu yang tidak perlu
dikenang namun memang saat ini kita sebaiknya tatap kedepan!”, kataku mulai
serius.
Malam sudah semakin larut tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul
setengah sepuluh.
”Kinan sudah malam aku ingin pamit dulu!. Sebenarnya aku masih kangen.
Besok pagi aku sudah kembali ke Surabaya”, kataku.
”Ya Alan sama aku juga masih kangen!”, kata Kinanti pendek. Aku kaget
karena ini pertama kali Kinanti berkata kangen kepadaku.
”Biarkan rasa kangen ini kita simpan saja dulu hingga suatu hari bisa kita
tumpahkan bersama!”, kataku.
”Alan aku ingin minta maaf atas semua yang pernah membuatmu sakit hati
terutama saat kita SMA dulu!”,suara Kinanti sendu.
”Kinanti sudahlah. Aku sudah memaafkan dan melupakan yang terjadi dulu.
Katamu tadi kita lebih baik menatap kedepan kan?”, kataku. Kinanti hanya
terdiam membisu. Lalu aku pegang tangannya.
”Kinanti kita sebaiknya menatap ke depan. Aku selalu ada untukmu!”, kataku
serius. Kinanti masih terdiam membisu. Dia menatapku dengan wajah sendu. Aku
bisa merasakan isi hatinya. Malam Minggu bersama Kinanti itu akhirnya usai
sudah namun aku berhasil mengetuk pintu hati Kinanti walaupun belum ada jawaban
yang pasti.
Hati wanita itu harus ditundukkan dengan kelembutan dan kasih sayang karena
hati wanita itu sangat halus maka dibutuhkan sentuhan kelembutan yang halus
pula. Wanita adalah mahluk yang sangat terhormat maka sentuhlah dia dengan rasa
hormat dan tulus. Wanita terhormat hanya untuk laki-laki terhormat. Alan apakah
kamu sudah pantas menjadi lelaki terhormat?. Pertanyaan yang sulit untuk
dijawab.
Minggu pagi di Bandara Husen aku menerima sms dari Kinanti :
”Alan untuk hari hari ke depan aku
pasti akan merindukanmu. Tetaplah selalu hadir untukku!”
Sebuah pesan yang memang singkat namun memiliki arti yang sangat dalam
bagiku dan bagi masa depanku. Kinanti tunggulah aku akan melamarmu.......
(BERSAMBUNG)
No comments:
Post a Comment