Thursday, April 24, 2014

Novel Hensa : BUNGA MUTIARA Episode 12

Foto : Hensa/Anggrek12

EPISODE 12
 MENAPAK DINDING TERJAL

Tidak seperti biasanya pada libur semester singkat ini dipergunakan oleh Bunga untuk pulang ke Jakarta. Padahal sebelumnya saat libur panjangpun, Bunga lebih betah tetap tinggal di Surabaya atau Pasuruan. Apakah ini ada hubungannya karena aku saat terakhir ini selalu bersama dengan Mutiara?. Memang akhir-akhir ini aku lebih sering bersama Mutiara dan sangat jarang bertemu Bunga. Telepon atau sms pun sudah jarang hanya tadi malam saja aku dikejutkan oleh telpon Bunga bahwa dia mau liburan di Jakarta.
“Kapan ke Jakarta Bunga?”, tanyaku saat itu.
“Minggu pagi!”.
Aku tidak berani bertanya lebih jauh tentang liburan singkat kok harus pulang ke Jakarta.
“Oh ya Herman maukah kau mengantarku ke Bandara Juanda?. Nanti pake mobilku sekalian kamu bawa saja mobil selama aku liburan di Jakarta!”, kata Bunga.
“Ok Bos. Siap!”, kataku biar ada kesan bercanda padahal hati ini sebanarnya masih bertanya-tanya karena seolah sekarang ini Bunga selalu mau menghindar dariku.
“Thanks Herman!”, kata Bunga.  
Pagi itu suasana Bandara Juanda sudah penuh dengan hiruk pikuk. Sepagi ini denyut Bandara ini sudah berpacu dengan waktu. Mungkin juga karena hari Minggu akhir pekan terutama saat liburan sekolah, banyak para Mahasiswa atau Pelajar yang mau bepergian sekedar wisata mengisi liburan mereka. Masih ada waktu satu jam bagi Bunga sebelum check in, kami habiskan di Corner café sambil menikmati minuman hangat dan kue ringan.
“Herman. Semakin lama aku semakin kagum padamu. Bertahun-tahun mengenalmu. Aku tahu luar dalammu dan yang paling membuat takjub ketika kamu mencintai Mutiara!”, kata Bunga. Aku merasakan kata-kata Bunga begitu datar dan wajar tidak ada sedikitpun nada sumbang rasa cemburu.
“Maksudmu kagum bagaimana?”.
“Kamu tahu Her. Semua Pria selalu menginginkan keperawanan seorang gadis. Ya walaupun cukup wajar di Negara kita yang selalu menjunjung tinggi kaidah kesucian seorang gadis dilihat dari keperawanannya!”, kata Bunga.
“Bunga. Aku sendiri heran kenapa aku mencintai Mutiara. Namun yang jelas untuk dicintai, Mutiara tidak perlu harus perawan. Mutiara memiliki ketulusan yang utuh. Cintanya begitu sederhana namun banyak maknanya!”, kataku.
“Mungkin ini yang membuat dokter Hermansyah menjadi seorang luar biasa!”, kata Bunga kali ini ada senyum tersungging di bibir manisnya. Lama rasanya aku tidak melihat senyum manis Bunga seperti ini lagi.
“Alhamdulillah!”, kataku pendek sambil membalas senyumnya.
“Okey Herman terima kasih sudah mengantarku. Aku harus segera check in !”, kata Bunga sambil berdiri dan menyalami tanganku. Bunga berbalik memunggungiku bergegas menuju Pintu Keberangkatan lalu hilang berbaur dengan para penumpang lainnya. Akupun bersiap menuju tempat parkir sambil pikiranku terus menerawang terutama memikirkan bagaimana sikap Ibu kepada Mutiara setelah tahu siapa sebenarnya wanita itu. Dalam perjalanan pulang dari Bandara Juanda itu tiba-tiba saja aku memutuskan untuk ke Pasuruan menemui Ibu dan Bapak. Ya biar aku saja dulu yang bicara tidak perlu Mutiara. Hal ini untuk menjaga andai ada sesuatu yang tidak diharapkan sudah bisa dihindari dari awal. Akhirnya mobil ini mengarah ke Tol Waru – Gempol menuju Pasuruan. Kulihat saat ini baru pukul 9.20 insya Allah sebelum Dhuhur aku sudah tiba di Rumah. Lalu lintas selama perjalanan cukup padat terutama yang menuju arah Kota Malang karena pada hari Minggu biasanya banyak keluarga yang pergi keluar kota hanya untuk mencari suasana segar disekitar Malang. Walaupun lalu lintas cukup ramai namun akhirnya aku sampai juga di kota Pasuruan kemudian menuju ke Desaku arah Selatan dari kota Pasuruan. Hanya 30 menit dari kota Pasuruan sampailah aku di depan Pintu gerbang Pesantren. Mobil aku parkir di halaman Selatan Mesjid persis di depan Rumah kediaman Bapak-Ibu. Aku disambut Ibu di teras depan itu. Aku menghampiri dan mencium tangan Ibu.
“Lho kok kamu sendirian?”, tanya Ibuku.
“Maksud Ibu mestinya sama siapa?”, tanyaku.
“Ya Mutiara lah!”.
“Kok Ibu enggak tanya Bunga padahal Ibu tahu ini mobil yang kupakai punya Bunga?”.
“Ibu kan sudah di kabari Bunga tadi malam, hari ini dia pulang ke Jakarta!”, kata Ibu. Aku hanya garuk-garuk kepala. Rupanya antara Ibu dan Bunga memiliki komunikasi yang baik. Sangat istimewanya Bunga di mata Ibu. Andai saja Mutiara bisa seistimewa itu?. Bahkan aku sendiri hampir saja lupa menelpon Mutiara untuk memberi kabar bahwa hari ini aku ada di Pasuruan. Saat aku menelpon aku pun menjelaskan strategi menghadapi Ibu lalu Mutiara menyetujui langkahku.
Sholat Dhuhur dan makan siangpun usai sudah namun kami rupanya masih duduk di Ruang makan itu. Ibu begitu serius mendengar penjelasanku tentang Mutiara sementara Bapak hanya sesekali saja menyela minta penjelasan. Sungguh saat itu aku benar-benar seperti seorang Mahasiswa yang sedang menghadapi Ujian skripsi dengan para Penguji yang kritis dan cerdas.
“Mutiara, sungguh malang nasibmu nak!”, kata Ibu dengan suara pelan menyerupai bisikan. Ibu sangat menaruh simpati atas kejadian yang menimpa Mutiara. Hal ini yang sangat diluar dugaanku. Ibu tidak berubah sikap terhadap Mutiara. Sebenarnya aku merasa lega namun belum tuntas karena Bapak masih belum memberikan komentar sama sekali.
“Herman, cerita yang sangat tragis. Apakah sekarang Mutiara sudah kembali berhubungan dengan kedua orang tuanya?”, tanya Ibu.
“Belum Bu. Namun sekarang di Surabaya ini Mutiara sudah bertemu dengan Om Franky, adik laki-laki dari Mamanya!”, kataku.
Mutiara pernah bercerita dua minggu yang lalu bahwa dia memutuskan untuk menemui Om Franky. Keputusannya untuk bertemu Om Franky ini ditempuh Mutiara dengan pertimbangan karena kini dia sudah lulus kuliah dan sekaligus juga keluar dari dunia hitam itu, namun demikian Mutiara masih belum siap untuk menemui Mama dan Papa tirinya. Pertemuan mereka sangat dramatis saat itu. Om Franky sebenarnya sudah diminta untuk mencari Mutiara, namun Mutiara demikian pandai bersembunyi dalam setahun terakhir ini. Maka ketika akhirnya mereka bertemu semuanya berakhir dengan haru dan bahagia. 
“Mas Herman, akhirnya aku  harus cerita juga kepada Om Franky tentang peristiwa itu. Tentu sambil berpesan jangan sampai Mamaku tahu!”, kata Mutiara saat itu menjelaskan padaku. Bagiku, keputusan Mutiara ini sangat melegakan karena dia telah kembali ada ditengah-tengah keluarganya. Paling tidak andai nanti aku melamar Mutiara bisa dilakukan melalui Omnya sebagai wakil keluarga.
“Saat itu Om Franky sangat marah dan dengan penuh emosi ingin agar Mamaku bercerai saja dengan Papa tiriku itu!”, kata Mutiara saat itu. Namun untung saja Mutiara bisa membujuk Om Franky agar bersabar untuk kebaikan dirinya.
“Herman!”, kembali suara Ibu memecah keheningan dan membuyarkan lamunanku saat di Ruang makan itu.
“Ya Bu!”.
“Kamu sisihkan waktu untuk mengajak Mutiara ke sini biarlah Ibu dan Bapak bisa berbincang dengan Mutiara lebih akrab lagi!”, kata Ibu.
“Herman!”, kali ini suara Bapak penuh wibawa. Aku terkejut sangat dalam mendengar namaku dipanggil beliau.
“Ya Pa!”, kataku pendek sambil memperhatikan apa yang akan dikatakan beliau pasti hal yang sangat penting sekali.
“Hermansyah Al-Buchari sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk menentukan jodohnya. Ilmu agamamu sudah aku anggap cukup untuk bisa menentukan jodohmu sendiri!”, kembali suara Bapakku, KH Muslim Al-Buchari  dengan kewibawaannya sebagai seorang yang disegani di Pesantren ini. 
Petuah beliau ini adalah tantangan tersendiri bagiku. Aku harus kembali mengingat isi hadist atau ayat dari Kitab Suciku serta penafsirannya yang benar. “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah (wanita yang baik)”. Apakah Mutiara wanita yang baik?. Bagaimana dengan Bunga mana yang lebih baik?. Apakah aku berhak untuk membandingkan kedua wanita ini?. Apakah aku adil menyandingkan Mutiara dan Bunga lalu memilih mana diantara mereka yang terbaik?. Sungguh sangat sulit sekali untuk mendapatkan perhiasan dunia ini karena sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang baik.

 BERSAMBUNG

No comments: