Monday, May 9, 2016

EPISODE CINTA DAISY LISTYA (22)


Foto Hensa

Tantangan 100 Hari Menulis Novel FC
EPISODE CINTA DAISY LISTYA
Oleh Hendro Santoso (Peserta Nomor 27)
Episode 22
BERAKHIR PEKAN DI BOROMEUS
Beberapa malam ini aku sengaja tidak menelpon Kinanti. Sudah tiga malam dan ini malam yang ke empat. Padahal sebelumnya hampir setiap malam aku ngobrol dengan Kinanti melalui hand phone. Aku hanya ingin tahu apakah Kinanti rindu denganku ataukah tidak. Apakah Kinanti merasa kehilangan aku ataukah tidak. He he he metode lamaku kembali aku jalankan. Aku nanti akan tahu apakah Kinanti akan bersikap bagaimana dan dari sana aku bisa menebak isi hatinya?. Sebenarnya saat ini aku tahu Kinanti memang sedang butuh kehadiranku hanya aku tidak mau sekedar dijadikan tempat untuk pelarian kekecewaanya terhadap Eko yang menghianatinya.  Ah benar saja ponselku berbunyi. Kulihat siapa yang menelpon. Eh ternyata Audray ada apa gadis ini menelponku malam-malam begini?
”Maaf pak Profesor malam-malam begini menelpon tapi masih jam sembilan belum terlalu larut!”  suara Audray di seberang sana. Aku melihat jam dinding ternyata baru jam sembilan seperempat. Pantas saja belum jamnya Kinanti menelpon. Kinanti biasanya menelpon diatas jam sepuluh.
”Iya tidak apa-apa. Apa yang bisa saya bantu Bu?” kataku bercanda.
”He he he Pak Alan bisa saja. Hanya ingin mengkonfirmasi apakah Undangan saya sudah Bapak terima?” kata Audray.
”Belum,  Undangan apa nih Di?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
”Undangan Pernikahan Prof!” kata Audray.
”Alhamdulillah selamat ya Audray. Saya turut merasakan bahagia!” kataku.
”Terima kasih Pak. Sambil menunggu Undangan yang belum Bapak terima, saya ingin mengundang lisan malam ini. Hadir ya Pak hari Minggu pekan depan ini!” suara Audray penuh rasa bahagia.
”Baik Di!. Inshaa Allah saya hadir di hari pernikahanmu!” kataku. Audray kembali mengucapkan terima kasih suaranya terdengar penuh kebahagiaan.
Aku juga bersyukur gadis Tionghoa yang cantik ini akhirnya mendapatkan jodohnya. Audray Lin sosok gadis cerdas yang pernah menjadi mahasiswiku mungkin akan memiliki catatan sendiri dalam lembaran lembaran buku hidupku. Andaikan aku harus mencatat biarlah aku akan mencatat yang baik baik saja darinya. Faktanya di lembar akhir buku hidupku Audray adalah gadis yang juga memiliki kepribadian yang kuat. Hari Minggu pekan depan adalah sejarah untuk Audray untuk memulai mengarungi bahtera rumah tangga. Lalu kapan aku sendiri memulai mengarungi bahtera rumah tangga?.  Aku tertawa sendiri di kamar itu. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Wahai Kinanti kemanakah dirimu?. Waktu terus merayap dan tanpa terasa aku tertidur baru terbangun lagi saat terdengar suara adzan Subuh dari Mesjid Al-Akbar. Astagfirullah aku benar-benar kesiangan untuk kali ini aku terlambat tidak bisa mengikuti sholat Subuh berjamaah. Malam yang melelahkan dan ternyata telepon yang aku tunggu tidak pernah berbunyi.
Jumat pagi ini seperti biasa, lalu lintas Kota Surabaya padat penuh dengan semangat. Motor motor seakan berkejaran dengan waktu sedangkan mobil harus banyak mengalah untuk memberi jalan. Kemacetan seakan sudah menjadi ritual sehari-hari namun Alhamdulillah pagi itu aku sudah tiba di ruang kerjaku. Aku menyusun agenda hari ini. Mengisi kuliah di Pasca Sarjana sampai pukul sebelas siang. Sorenya ada pengamatan data penelitian mahasiswa di Laboratorium HPLC. Ketika aku sedang mempersiapkan bahan untuk mengisi kuliah tiba-tiba ponsel berdering. Ternyata Intan yang menelpon.
”Assalaamu alaikum Om Alan!” suara Intan terdengar khawatir.
”Wa alaikum salam ya Intan!”
”Om Alan ada khabar buruk, Ibu sedang di rawat di Rumah Sakit!”
”Lho sakit apa Ibumu!” kataku terkejut.
”Tekanan darahnya turun drastis namun sekarang sudah ditangani dokter. Ibu sedang beristirahat kondisinya sudah lumayan!” kata Intan.
”Baik Intan sore ini Om Alan ke Bandung!”
”Iya Om kelihatannya Ibu sangat membutuhkan Om Alan!” suara Intan penuh harap. Ya Allah kalimat itu keluar dari anak gadisnya Kinanti. Aku sangat terharu mendengarnya. 
Bandara Juanda sore itu tidak begitu sibuk sehingga aku masih dapat tiket untuk penerbangan ke Bandung. Menjelang Isya aku sudah mendarat di Bandara Husein Santranegara. Aku menggunakan Taksi menuju Rumah Sakit Boromeus di jalan Juanda tempat dimana Kinanti dirawat. Melalui jalan layang Pasopati tidak sampai satu jam akhirnya taksi itu mengantarku ke halaman parkir Rumah Sakit Boromeus. Segera aku menuju kamar rawat di lantai dua. Aku ketuk pintu kamar dan ketika pintu terbuka Intan sudah berdiri di sana.
”Om Alan Bu!” suara Intan dengan gembira memberitahu ibunya.
”Assalaamu alaikum!” aku memberi salam.
Aku melihat Kinanti tersenyum padaku sambil membalas salamku. Kinanti terlihat pucat. Memang butuh istirahat untuk mengembalikan kondisi kesehatannya. Tekanan darahnya rendah dan ternyata hasil uji Laboratorium menunjukkan kadar haemoglobinnya juga rendah. Kinanti mungkin terlalu capek. Terutama karena kelelahan tidak hanya secara fisik namun juga psikis.
”Terima kasih Alan sudah mau menjengukku!” kata Kinanti dengan suara lemah namun wajahnya menampakkan kegembiraan.
”Alhamdulillah Kinan. Tentu saja aku pasti menjengukmu apalagi sedang sakit begini sedang tidak sakitpun aku tetap menjengukmu!” kataku.
”Iya Bu. Jika Om Alan menjenguk Ibu saat sedang sakit itu artinya khawatir namun jika Om Alan menjenguk Ibu waktu Ibu tidak sakit, itu artinya karena rindu!” suara Intan menggoda sambil tertawa. Rupanya Intan sudah mulai berseloroh. Mendengar ini aku  tertawa dan Kinanti hanya tersenyum.
”Intan sekarangpun Om Alan menjenguk Ibumu juga karena rindu lho!” kataku tidak kalah dengan Intan untuk menggoda Kinanti. Ruangan rawat inap itu penuh dengan canda dan tawa. Suasana yang sangat menggembirakan.
”Kinan bagaimana kondisimu sekarang?” tanyaku.
”Alhamdulillah, tensi sudah mulai membaik dan haemoglobin mudah-mudahan juga sudah meningkat dengan transfusi ini!” kata Kinanti.
”Syukurlah beristirahatlah sampai pulih lagi jangan terlalu banyak pikiran!” kataku.
”Om Alan sih enggak mau ngerti. Ibu tuh banyak pikiran karena orang Surabayanya nggak mau ngerti!” kata Intan lag-lagi menggoda Ibunya.
”Intan, jangan macam-macam kamu itu!” suara Kinanti sambil cemberut. Aku kembali tertawa.  Kinanti benar-benar tidak berkutik ”dikerjain” Intan, anak gadisnya sendiri. Memang suasana ruangan tempat Kinanti dirawat demikian hangat dengan canda dan tawa. Aku melihat Kinanti seperti terlahir kembali.  Wajahnya sudah nampak bersinar.
Wanita cantik yang terbaring di ruang perawatan ini seakan sudah pulih. Aku kembali melihat mata yang berbinar jika Kinanti berbicara dan menatapku. Aku juga merasakan ada rindu di hatinya. Iya Kinanti memang merindukanku sama seperti halnya aku merindukannya.
Sabtu itu ketika aku kembali menjenguk, Kinanti sudah kelihatan segar dan bugar. Wajah cantiknya sudah kembali memancar secerah Sabtu pagi ini. Kota Bandung ditemani Matahari yang bersinar dengan langit cerah berwarna biru. Hari ini aku mempunyai kesempatan seharian menemani Kinanti. Intan sendiri hari Sabtu ada kegiatan di Kampusnya sehingga aku benar-benar hanya bersama Kinanti.
”Tadi malam Listya telpon aku menanyakan kondisi kesehatanku!. Dia tahu darimu aku dirawat di Rumah Sakit!” kata Kinanti.
”Iya tadi malam aku sms Listya memberi khabar tentangmu!” kataku.
”Oh ya Listya bercerita katanya Audray minggu depan mau melangsungkan pernikahannya!” kata Kinanti.
”Benar Kinan. Aku berharap minggu depan kau sudah benar-benar pulih sehingga bisa bersamaku ke resepsi pernikahannya Audray!” kataku.
”Menurut dokter yang memeriksaku pagi tadi, Inshaa Allah hari Senin besok aku sudah diperbolehkan pulang!” kata Kinanti.
”Alhamdulillah. Kinan sungguh aku senang mendengarnya. Memang aku melihat wajahnya Kinanti sekarang sudah kembali berbinar seperti biasanya!” kataku.
”Alan Erlangga mulai kumat!” kata Kinanti mendelik tapi sambil tersenyum dan aku tertawa lepas.
”Lalu apa pesan dokter tadi pagi untuk menjaga kesehatanmu?” tanyaku.
”Dokter bilang padaku jangan terlalu banyak pikiran, istirahat cukup dan perhatikan makan!” kata Kinanti.
”Nah itu terlalu banyak yang dipikirkan sebaiknya Kinanti memikirkan satu hal saja!” kataku.
”Memikirkan satu hal?. Apa itu?” tanya Kinanti.
”Cukup memikirkan satu hal yaitu pikirkan Alan Erlangga yang lain lupakan!” kataku sambil tertawa. Untuk kali ini sebuah cubitan mendarat di perutku dan aku hanya meng”aduh”.
”Memang dasar Alan Erlangga sifat jeleknya tidak hilang-hilang!” kata Kinanti pura-pura ketus.
”Astagfirullah sifat jelek yang mana?” kataku protes.
”Itu yang pintar bikin rayuan gombal!”kata Kinanti. Aku kembali tertawa sementara Kinanti hanya tersenyum. Aku benar-benar lega karena aku melihat Kinanti sudah pulih, sehat dan gembira.
Menjelang sore aku segera berpamitan sesaat setelah Intan dan Bapak  Ibunya datang menjenguk Kinanti. Kedua orang tua Kinanti mengucapkan terima kasih atas kunjunganku. Bagiku beliau-beliau sudah bukan orang lain tapi sudah seperti orang tuaku sendiri. Terutama Ibunya seakan penuh harap kepadaku agar aku selalu tetap bisa menjaga Kinanti. Aku bisa merasakan dari dialog dialog kecilnya bersamaku. Sebelum aku berpamitan Intan masih sempat bercanda menggoda Ibunya.
”Om ternyata obatnya Ibu itu ada di Surabaya. Buktinya setelah obat itu datang menjenguk sekarang Ibu sudah sehat lagi!” kata Intan dan kami di ruang itu tertawa sementara Kinanti hanya bisa melotot kepada Intan anak gadisnya.
Malam Minggunya aku habiskan bersama Ibunda tercinta dengan mengajak makan malam di sebuah Kafe yang dekat dengan rumah. Ibu sekali lagi menanyakan tentang jodohku bahkan ketika tahu Kinanti sedang menyendiri saat ini, Ibu mengharapkan aku menikah dengan Kinanti saja. Memang Ibu dulu juga pernah berkata seperti itu dan kali ini permintaan Ibu dikatakannya lagi. Aku mencoba merenung ada makna apa dan bagaimana aku harus bersikap. Malam itu aku hanya berkata kepada Ibuku agar aku selalu didoakan mendapatkan jodoh yang terbaik.
Minggu pagi itu aku masih sempat menjenguk Kinanti di Rumah Sakit Boromeus karena aku mendapatkan tiket penerbangan siang.
”Kinan siang ini aku kembali ke Surabaya. Semoga kau tetap sehat dan kembali ceria jangan murung. Jangan terlalu banyak pikiran cukup pikirkan satu hal saja!”,kataku.
Untuk kali ini Kinanti tersenyum penuh arti dan aku tahu arti dari senyum itu. Senyum yang manis dengan mata indah bercahaya maka lengkaplah kecantikan wanita di depanku ini.
”Alan sungguh aku sangat bahagia memiliki sahabat sepertimu. Sungguh aku merasa nyaman, tenang, tentram berada di sisi sahabat sejatiku ini!” kata Kinanti.
”Alhamdulillah. Aku juga demikian Kinanti adalah sahabat sejatiku yang selalu membuat aku penasaran. Sahabat yang selalu membuatku bertanya-tanya!” kataku.
”Mengapa aku membuatmu selalu bertanya-tanya? Profesor Alan apa sebenarnya yang ingin kau tanyakan?” kata Kinanti sambil senyum senyum.
”Entahlah saking banyaknya pertanyaan sehingga tidak satupun yang mampu aku ingat!” kataku juga sambil senyum-senyum.
”Baiklah Profesor jika nanti sudah ingat pertanyaan itu segeralah katakan  kepadaku!” kata Kinanti.
Dialog-dialog itu akhirnya membuat kami tertawa. Aku merasakan kebahagiaan yang lain terutama ketika Kinanti mengatakan merasa nyaman, tenang, tentram berada di sisiku. Benarkah? Mudah-mudahan bukan sekedar angin Surga. Ternyata perjuangan masih panjang maka akupun siang itu berpamitan kembali ke Surabaya.
”Hati-hati Alan jaga dirimu baik-baik. Kabari aku jika sudah tiba di Surabaya!” pesan Kinanti.
”Juga untuk Kinan jaga kesehatan, cukup fikirkan satu hal saja ya!” kataku. Kinanti mengangguk sambil tersenyum manis.

BERSAMBUNG Episode 23 







2 comments:

Suryadiarmanrozaq said...

good post mas

Hendro Santoso said...

Terima kasih Mas Surya...Salam hangat.