Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

Monday, May 6, 2013

CINTAKU DI BALIK BUKU


Foto : Hensa (Koleksi Pribadi)



EPISODE 1 . Pagi itu Ruang Kelas 12 IPA2 masih Nampak kosong hanya ada beberapa anak yang kebetulan piket untuk membersihkan kelas. Satrio Bayu sebagai ketua kelas harus datang pagi setiap hari karena memang bertugas mengawasi dan bertanggung jawab terhadap kebersihan kelasnya. Satrio Bayu, biasa dipanggil Bayu adalah seorang pemuda yang mulai beranjak dewasa namun sangat pemalu apalagi jika berhadapan terhadap wanita. Sikap pemalu ini mungkin karena Bayu hanya berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya seorang pegawai di kelurahan sedangkan  ibunya bekerja sebagai guru di salah satu Sekolah Dasar. Kendati demikian ternyata prestasi belajar Bayu sangat luar biasa. Setiap tahun kenaikan kelas, Bayu selalu mendapatkan prestasi rangking satu. Itulah sebabnya Bayu selalu terpilih sebagai Ketua Kelas. Sewaktu di kelas 11, Bayu bahkan terpilih sebagai Ketua Osis. Bayu adalah sosok ideal, pandai, ganteng, aktif dalam organisasi. Tidak heran jika semua teman-temannya sangat menyukai Bayu baik itu teman pria apalagi teman wanita. Diantara teman teman wanita yang suka sama Bayu hanya ada satu yang Bayu suka kepadanya. Gadis itu bernama Intan Permatasari.
Intan, demikian panggilan akrab teman-temannya adalah gadis manis tinggi semampai, berambut panjang terurai bak model iklan salah satu produk shampoo di Televisi. Latar belakang keluarganya dari kalangan atas. Ayahnya adalah Pejabat Kepolisian di kotanya sedangkan ibunya adalah Dosen di salah satu Perguruan Tinggi swasta. Walaupun demikian, Intan selalu bersikap ramah kepada siapa saja. Tutur bicaranya santun apalagi jika berbicara selalu diiringi senyum. Intan memang gadis yang sangat berkarakter pada usianya yang sangat belia ini.
Pada jam istirahat ini biasanya Intan bersama gangnya ngepos di Kantin Sekolah.
“Intan kamu masa gak ngerti sih kalau Bayu itu naksir kamu?”, suara centil dari Maya salah satu anggota gangnya Intan. Intan hanya bereaksi dengan senyum. Sikap Intan ini malah membuat Maya semakin  penasaran. Selama ini memang Intan pandai menyembunyikan perasaannya tentang Bayu. Inilah yang membuat Maya,Linda dan Rere semakin penasaran.
“Intan kalau kamu enggak naksir Bayu ya udah biar aku aja yang pedekate!”, kata Maya. Mendengar kata-kata Maya ini kembali Intan hanya tersenyum dan angkat bahu.
“Maya memangnya Bayu naksir kamu?”,kata Linda sambil tertawa. Maya hanya cemberut mendengar gurauan Linda.
“Kalau Bayu naksir kamu wah dunia ini kiamat!”, sekarang Rere ikut memberi komentar. Mendengar gurau dan canda teman-temannya ini, Intan hanya tertawa kecil. Kantin Sekolah di jam istirahat ini memang ramai dengan tawa dan canda mereka. Ketika bel berbunyi, maka mereka kembali memasuki kelas untuk mengikuti jam pelajaran berikutnya.
Kota Bandung siang itu begitu terik disengat Matahari. Bayu baru saja keluar dari pelataran parkir sepeda motor. Ketika sedang menyalakan sepeda motornya, Bayu berpapasan dengan Intan yang saat itu sedang berjalan menuju mobil jemputannya.
“Hai Bayu!”, sapa Intan. Pemuda itu membalasnya dengan sapaan : “Hai Intan!”.
“Oh ya Bayu nanti malam bagaimana kalau kita belajar bersama mengerjakan PR Kimia pak Parjo?”, ajak Intan.
“Nanti malam?. Waduh aku ada rapat Karang Taruna. Maaf Intan aku mungkin gak bisa!”, kata Bayu agak tergagap menjawab ajakan Intan.
“Iya gak apa apa Bayu. Oke kalau gitu aku duluan ya!”, kata Intan tersenyum manis sambil bergegas menuju mobil jemputannya yang sudah siap dari tadi.
“Okey Intan!”, kata Bayu menatap sedan BMW hitam itu meluncur mulus meninggalkan Bayu.
Setiap hari Intan diantar ke Sekolah oleh Sopir pribadi keluarganya atau kadang-kadang Intan yang mengemudikan sendiri untuk pergi dan pulang sekolah.  Sementara Bayu kemanapun dia pergi hanya berteman sepeda motor butut dan tua bikinan Jepang itu. Ya memang status sosial yang sangat jomplang. Untuk Bayu mengharapkan cinta seorang Intan Permatasari ibarat pungguk merindukan bulan. Baginya bisa berteman saja dengan Intan yang kebetulan satu kelas di sekolahnya adalah anugerah tersendiri. Harapan mungkin hanya tinggal sebatas harapan dan Bayu tidak bisa berbuat apa apa alias pasrah. Pemuda ini selain pendiam ternyata dia juga tidak pernah mau curhat kepada sahabat dekatnya misalnya kepada Anton atau Aang. Bayu malah lebih sering dengan buku hariannya. Semua yang dia rasakan setiap hari dia tumpahkan di Buku Hariannya, sebuah buku kecil ukuran 10 x 14 cm dan tebal 3 cm. Disitulah semua perasaan bayu berada. Seperti ketika Bayu bertemu Intan di pelataran parkir Sekolah maka Bayupun menu-lis :
“Intan semakin lama semakin cantik semakin aku tidak mampu untuk menahan rasa cintaku padamu tapi sayangnya aku bukan orang yang tepat untukmu”.
Malam itu sepulang rapat Karang Taruna di Kelurahan, Bayu merasa kaget dan terkejut luar biasa ketika dia melihat ada mobil BMW parkir di depan rumahnya. Intan. Ya ternyata betul di ruang tamu Intan sudah menunggu dari tadi.
“Intan sudah lama menunggu?”, tanya Bayu ramah.
“Baru saja kok Bayu!”, Intan menjawab sambil tersenyum. “Oh ya Bayu. Aku mau tanya PR Kimia yang tadi siang itu sungguh aku benar-benar tidak bisa!”, kata Intan.
“Okey kebetulan aku juga belum mengerjakan-nya bagaimana kalau kita kerjakan bersama-sama?”, ajak Bayu. Intan mengangguk kembali sambil tersenyum manis. Gadis ini memang cantik sekali dengan rambut panjang terurai menambah aura kecantikannya. Bayu benar-benar masih terpukau dengan kehadiran Intan ini.
“Maaf Bayu, aku tidak memberitahu lebih dulu mau datang ke rumahmu!”, kata Intan.
“Iya gak apa apa, tapi kok kamu tahu rumahku di sini? Tadi tidak nyasar kekampung sebelah?”, kata Bayu bercanda.
“Aku tanya kepada Maya dan tadi memang pak Safei sempat nyasar ke jalan buntu sebelah sana!”,kata Intan. Mendengar ini mereka berdua tertawa. Pak Safei adalah nama sopirnya Intan.
Maka malam itu kedua sejoli ini belajar bersama mengerjakan PR Kimia. Sungguh akrab mereka kadang-kadang serius membahas soal-soal kimia tapi juga ditengah-tengah keseriusan ada selingan canda dan tawa. Tanpa terasa waktu sudah begitu malam dan Intan pun segera pamit.

(BERSAMBUNG)