Sunday, April 6, 2014

Novel Hensa : BUNGA MUTIARA Episode 10

Foto : Hensa/Koleksi Pribadi


EPISODE 10
SEKAT CINTA DUA HATI

Setiap selesai sholat istiqoroh dan sholat tahajud, aku selalu tertidur biasanya aku terbangun saat terdengar adzan Subuh. Malam itu ada yang istimewa, aku bermimpi Mutiara dan Bunga menghampiriku lalu mereka memegang kedua lenganku. Mutiara memegang erat tangan kiriku sedangkan Bunga tangan kananku. Mereka membimbingku berjalan menuju sebuah Istana yang megah. Aku terbangun ketika terdengar suara adzan Subuh itu. Ya memang hanya sebuah mimpi. Apapun itu artinya tetap saja hanya sebuah mimpi. Namun aku juga harus pandai merasakan makna dari mimpi itu. Apakah mimpi ini adalah makna tersirat dari hasil sholat istiqoroh itu. Sungguh aku tidak bisa memasti-kan demikian. Kepastian itu selalu ada padaNya.
Sore itu aku asyik berbincang santai bersama Bunga di teras samping Rumah Tantenya di Kertajaya Indah. Siang tadi kami memang sudah bertemu di Kampus tempat Bunga kuliah lalu berlanjut hingga mampir di sini. Segelas kopi panas dan makanan kecil sudah tersedia untuk dinikmati. Kami ngobrol ngalor ngidul diselingi tawa ria dan canda sampai akhirnya obrolan Bunga mulai menyinggung tentang Mutiara.
“Herman. Boleh aku katakan bahwa walaupun ada dalam lumpur terdalampun yang namanya Mutiara itu tetap Mutiara!”, kata Bunga.
“Ya aku sangat lega akhirnya kau tahu juga siapa Mutiara!”, kataku.
“Aku sangat kagum dan simpati padanya Herman!. Dia wanita yang tangguh. Kau tahu tidak titik balik kehidupan-nya saat berbalik arah?”, tanya Bunga.
“Tidak tahu. Kapan?”.
“Saat Mutiara bertemu dengan dokter Hermansyah!”.
“Ah kamu mulai mengada-ada!”, kataku.
“Dengar Herman berkali-kali aku katakan, Mutiara sangat mengagumimu!”, kata Bunga. Aku hanya meng-angkat bahu sambil tersenyum. Aku lihat Bunga sangat serius menuturkan kalimat demi kalimat.
“Dia merasakan sentuhan damai dalam hatinya pada setiap tutur katamu padanya!”, kata Bunga lagi menambah-kan. Aku masih terdiam mendengarkan kalimat-kalimat yang diucapkan Bunga. Aku melihat ada rasa haru di wajah Bunga.
“Mutiara bercerita semua curahan hatinya dengan berlinang air mata. Aku bisa merasakan nestapanya. Aku juga bisa merasakan cintanya padamu saat dia bercerita tentangmu!”, kata Bunga. Aku masih terdiam sambil memandang Bunga dan ya Tuhan benarkah yang aku lihat ini. Bunga meneteskan air mata saat mengatakan kalimat tadi.
“Maaf Herman. Aku hanya terharu teringat nestapa Mutiara!”, kata Bunga sambil mengusap air matanya.
“Sudahlah Bunga. Kita memang harus memberikan simpati kepada Mutiara!”, kataku.
“Ya Herman. Sambutlah dia, sambutlah cintanya!”, kembali suara Bunga terharu. Aku kembali terdiam tidak berani mengomentari kata-kata Bunga. Sekarang yang ada dalam benakku adalah rasa haru Bunga saat dia tahu kalau Mutiara mencintaiku. Apakah Bunga meneteskan air mata karena terharu atau karena merasa takut kehilangan diriku. Sekarang aku bisa merasakan betapa Bunga memang mencintaiku sampai sampai dia mau berkorban dan  merelakan cintaku untuk Mutiara. Setiap cinta yang tulus pasti hanya bisa dirasakan oleh hati yang tulus pula.
Aku harus berani jujur bahwa apa yang dikatakan Bunga mungkin belum tentu menjadi pilihanku yang terbaik. Kini aku hanya merasa yakin kalau Bunga dan Mutiara memang sama-sama mencintaiku. Jika aku memilih Bunga maka pilihan itu hal yang wajar. Lelaki mana yang tidak tertarik kepada Bunga, gadis cantik, cerdas berasal dari keluarga terhormat. Wajar semua lelaki menyukai Bunga. Jika aku memilih Mutiara, maka inilah pilihan yang akan membuat orang-orang terdekatku mengernyitkan dahi setelah mereka tahu latar belakang siapa Mutiara. Terlalu banyak orang selalu berpandangan terhadap masa lalu padahal kita hidup pada masa kini. Masa lalu sekelam atau seindah apapun tetap hanya menjadi masa lalu. Sedangkan masa kini adalah kenyataan. Menjadi orang baik saat ini adalah kenyataan yang jauh lebih baik dibandingkan kenistaan dimasa lalu. Sebaik-baiknya kebaikan adalah kebaikan yang ada dimasa akhir. Benar apa kata Bunga. Mutiara akan tetap menjadi Mutiara walaupun ditemukan di dalam lumpur kenistaan.  
Sejak mengobrol dengan Bunga di Teras samping rumah Tantenya itu aku jadi selalu teringat kata-kata Bunga.
“Ya Herman. Sambutlah dia, sambutlah cintanya!”.
Kata-kata ini seolah membuat tekadku menjadi bulat  untuk memutuskan memilih Mutiara. Rasa kagumku kepada Bunga yang telah begitu berbesar hati. Takkan pernah kulupakan ketulusan cintanya.
Malam itu laporan dan tugas-tugas masih numpuk namun belum satupun selesai kukerjakan. Aku seperti tersandera wajah Mutiara. Aku rasanya ingin segera bertemu Mutiara dan sesegera itu pula mengemukakan rasa hati ini. Ingin rasanya malam ini aku menelpon Mutiara hanya sekedar meredakan rasa kangen ini. Aku ambil hand phone lalu kucari nomor Mutiara lalu pijit call. Tidak lama terdengar suara merdu yang sangat aku kenal menjawab panggilan HP ku.
“Ya Mas Herman!. Selamat malam!”, suara Mutiara.
“Tiara belum tidur?”.
“Belum Mas masih sedang melamun!”.
“Oh sama dong. Aku juga sedang melamun!”.
“Wah pasti sedang melamunkan mbak Bunga ya!”.
“Bukan dong kalau sedang melamunkan Bunga tentu tidak menelpon Tiara!”.
“Jadi melamunkan siapa?”, tanya Mutiara menyelidik.
“Melamunkan Mutiara!”, kataku. Terdengar ada suara tertawa kecil.
“Mas Herman sekarang sudah berani merayu nih!”, kata Mutiara.
“Iya dong, kan sudah biasa orang yang lagi jatuh cinta biasanya pandai merayu!”, kataku. Aku yakin saat ini wajah Mutiara pasti merona merah seperti tempo hari yang  membuatnya bertambah cantik.
“Wow rupanya mas Herman sedang jatuh cinta. Boleh tahu dong siapa gadis yang beruntung mendapat cintanya dokter Hermansyah yang baik hati ini!”, kata Mutiara.
“Diberitahu nggak yah?”, kataku bercanda.
“Harus diberitahu dong siapa gadis itu?”, kata Mutiara merajuk.
“Jangan sekarang ah lebih baik kapan-kapan saja biar Tiara semakin penasaran!”, kataku lagi. Aku mendengar Mutiara tertawa. Suara merdu dan tawa rianya akhirnya telah mampu mengobati kerinduanku kepada Mutiara. Maka malam itu akhirnya satu demi satu tugas dan laporan bisa kuselesaikan dengan baik walaupun jam tidurku harus mundur hingga larut malam.
Malam itu aku sengaja mampir ke Paviliun tempat kost Mutiara. Sebelumnya aku telpon dulu apakah Mutiara sudah punya acara ternyata Mutiara tidak ada acara keluar rumah. Sesampai di sana, Mutiara menyambutku dengan penuh ramah dan rasa bahagia. Aku bisa melihat matanya berbinar ceria melihat kedatanganku. Di ruang tamu itu aku disambut Mutiara dengan berpakaian sangat sederhana, wajahnya seperti biasa tanpa riasan berlebihan. Namun justru aura kecantikannya tetap terpancar utuh tanpa kepalsuan sedikitpun. Mutiara semakin lama aku semakin  merasakan betapa dekatnya dalam hatiku semua yang ada pada dirinya.
“Hei Mas Herman kenapa menatapku seperti itu?”, kata Mutiara saat aku sedang menatapnya tak berkedip.
“Iya aku seperti sedang memandang seseorang yang tadi malam aku ceritakan kepadamu!”, kataku sambil tersenyum.
“Oh maksudmu seseorang yang telah membuatmu jatuh cinta ya Mas?”, kata Mutiara sambil tersenyum manis. Aku mengangguk sambil terus menatap Mutiara. Menerima tatapanku, Mutiara tersipu walaupun bibirnya masih tersenyum.
“Mas Herman jangan memandangku seperti itu dong!. Aku jadi malu!”, kata Mutiara.
“Tiara!”, kataku sambil aku pegang kedua tangannya. Mutiara memandangku dengan tatapan penuh harapan.
“Seseorang yang membuatku jatuh cinta itu adalah wanita bernama Mutiara!”, kataku pelan.
“Ya Mas terima kasih!”, kata Mutiara. Tiba-tiba Mutiara dengan halus melepaskan genggaman tanganku lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela yang menghadap taman di samping rumah itu. Aku hanya menatapnya tanpa kata.
“Mas!, aku sangat bersyukur dan bahagia mendengar kejujuran dan ketulusan hati Mas Herman!. Namun aku tidak berhak untuk menerima cintamu”, kata Mutiara sambil tetap memandang ke luar jendela. Aku berdiri berjalan menghampiri Mutiara.
“Tiara kenapa harus begitu?”.
“Mas, aku ini hanya seorang wanita yang tidak pantas mendampingimu. Seorang wanita kotor yang sedang berusaha membersihkan diri!”, kata Mutiara dengan tatapan kosong dan mata yang berkaca-kaca.
“Tiara dengarlah. Di dunia ini tidak ada manusia yang bersih. Semua manusia kotor dengan dosa dan semua manusia akan selalu berusaha membersihkan diri!”, kataku.
“Mas Herman bukan itu saja. Ada yang lebih layak dan pantas untuk menerima cintamu yaitu Mbak Bunga!”, kembali kata Mutiara.
“Tiara biarlah aku berkata bahwa aku akan selalu menunggu jawabanmu kapanpun aku akan menunggu!”, kataku.
“Jangan Mas. Kita harus berani menghadapi kenyataan. Bagaimanapun diantara kita terlalu banyak perbedaan yang sulit disatukan!”, kata Mutiara.
“Mas. Aku harus tahu diri agar bisa menghadapi kenyataan ini dengan tegar. Bagiku saat ini berteman dengan Mas Herman sudah menjadi kebahagiaan dalam hidupku!”, kembali kata Mutiara sambil berjalan kembali menuju tempat duduk di ruang tamu itu. Aku mengikutinya menuju tempat dudukku.
“Tiara baiklah. Kamu jangan menangis seperti itu. Bagiku yang penting aku sudah mengutarakan isi hatiku dan aku akan terus menunggu jawabanmu!”.
“Mas Herman!”, kata Mutiara sambil menatapku, matanya masih berkaca-kaca dan setetes air mata jatuh dipipinya. Kemudian Mutiara melanjutkan perkataannya:
“Kadang-kadang aku menghayal mendapatkan teman hidup seperti yang kuimpikan. Namun sampai saat ini hal itu masih tetap hanya khayal dan impian semata karena aku tidak mampu untuk membalas cintamu”.
Aku hanya terdiam mendengar apa yang dikatakan Mutiara. Aku kembali memegang kedua tangannya.
“Tiara!. Khayalan dan impianmu kini sudah menjadi kenyataan!”, kataku. Mutiara memandangku sambil berlinang air mata. Perlahan aku hapus air mata yang menetes di kedua pipinya. Aku benar-benar harus berjuang untuk menembus sekat cinta antara dua hati ini.

BERSAMBUNG

Tuesday, March 25, 2014

Novel Hensa : BUNGA MUTIARA Episode 9


Foto : Hensa/koleksi Pribadi

EPISODE 9
SKETSA CINTA KITA
Aku bisa merasakan kebahagiaan Bapak dan Ibuku ketika akhirnya aku sembuh dan pulang kampung. Mereka juga kelihatan gembira menyambut dua orang wanita cantik yang mengantarkanku dari Surabaya ke Pasuruan.
“Bunga dan Mutiara sudah repot mengantarkan Herman pulang ke Pasuruan ini. Terima kasih sekali!”, kata Ibuku. Mereka begitu asyik mengobrol akrab di Ruang Tamu. Sesekali terdengar suara gelak tawa mereka.  Hari yang penuh dengan kebahagiaan. Seharusnya memang aku selalu bersyukur dan bersyukur kepada Tuhan begitu besar perhatian dan cinta mereka kepadaku. Saat hari menjelang siang Bunga dan Mutiara berpamitan untuk kembali ke Surabaya.
“Bunga terima kasih hati-hati di jalan ya. Tiara terima kasih!”, kataku saat mengantar mereka ke gerbang halaman depan.
“Oke Bos!”, kata Bunga sedangkan Mutiara hanya tersenyum manis. Aku membalas lambaian tangan mereka ketika mobil mereka meninggalkan halaman rumah.
Aku beristirahat di Rumah selama tiga hari ini. Tidak ada kegiatan apapun yang kulakukan kecuali membaca buku. Selama aku di rumah, ‘mbak yu’ ku yang di Malang sempat menjengukku sedangkan ‘mbak yu’ yang di Jakarta hanya sempat menelpon. Apapun yang sudah mereka lakukan kepadaku adalah bagian dari kebahagiaanku yang utuh. Mereka, kakak-kakak perempuanku adalah pahlawan hatiku dan tentu saja Ibu dan Bapakku adalah segalanya, yang sangat berpengaruh dalam kehidupanku. Terutama Bapak. Beliau adalah Ulama yang dihormati masyarakat karena ilmunya yang sangat bermanfaat bagi pembangunan karakter generasi muda negeri ini. Pesantren yang dikelola Beliau menerapkan pola pendidikan yang sangat fokus pada pengembangan pendidikan karakter. Dalam bahasa pesantren lebih popular disebut dengan istilah akhlakul karimah yang menjadi tujuan utama dari penyelenggaraan pendidikan di sana. Akhlakul karimah ini menjadi tujuan  terpenting dalam pola pendidikan yang dikembangkan pesantren. Peran Beliau selama ini sangat penting, bahkan seorang Kiyai seolah-olah menjadi semacam living curriculum yang selalu mengawasi perilaku anak asuhnya. Perannya sangat sentral dalam memantau perkembangan akhlak santri.
Aku bangga dan bersyukur ditakdirkan menjadi anak kandung beliau, KH Muslim Al-Buchari. Aku sangat hormat kepada beliau. Bukan hanya karena beliau adalah Bapakku tapi juga lebih kepada ilmu-ilmu beliau yang penuh dengan hikmah. Dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana beliau menerapkan budaya ikhlas, kesederhanaan, kemandirian, gotong royong. Mempertahankan kearifan budaya lokal. Menjalankan prinsip-prinsip ukhuwwah islamiyyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwwah watoniyyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia). Bagaimana selama ini Bapakku selalu mengajarkanku prinsip dengan standar tinggi dengan mengedepankan budi pekerti mulia (akhlakul karimah), berpengetahuan luas, kemerdekaan berpikir. Juga mengajarkan nilai-nilai kebenaran universal berupa tasaamuh(toleransi), tawassuth (moderat) dan tawazun (berimbang). Sungguh ilmu yang sangat berat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Aku adalah anak bungsunya yang harus menjaga amanah dan kehormatan keluarga dengan berperilaku yang mencerminkan ahlak yang mulia. Betapa beratnya memang harus memegang amanah tersebut namun jika didasari atas ibadah kepada Allah, semua menjadi ringan.  Insya Allah.
Malam itu Ibu kembali menanyakan siapa yang menjadi calon untuk pendamping hidupku kelak.
“Herman. Tidak boleh terlalu lama membujang. Bagimu saat ini pernikahan sudah wajib hukumnya!”, kata Ibu. Bapak yang duduk disebelahnya masih asyik membaca sebuah Kitab.
“Ya Bu. Aku tahu tapi tidak mudah untuk mencari teman hidup?”, kataku.
“Teman hidup itu tidak usah dicari Nak!. Kamu tinggal pilih!”, kata Ibu lagi.
Lho sopo Bu sing arep tak pilih ?”, kataku dengan bahasa khas Jawa Timuran yang artinya ‘siapa Bu yang mau aku pilih?’.
“Herman, kamu itu tinggal pilih saja Bunga, Mutiara atau Annisa. Nah tunggu apalagi?”, kata Ibu. Mendengar apa yang dikatakan Ibuku, aku hanya tersenyum.
Ono opo senyum-senyum?. Nih dengar nak, Bunga itu kurangnya apa?. Juga Annisa?, semua keluarga sudah tahu gadis ini sangat sholehah!. Mutiara?. Walaupun baru kenal tapi rasanya Ibu sangat familiar dengan tatakramanya. Tunggu apalagi Hermansyah?”, kata Ibuku.
“Apa Ibu yakin mereka itu memang suka sama aku?”, kataku balik bertanya.
“Herman tentu saja. Bagaimana Bunga selalu setia sejak SMP dulu. Annisa juga bisa dirasakan akrab dengan Ibu. Mutiara, sewaktu ketemu di Rumah Sakit itu, Ibu juga tahu dia sangat suka kepadamu!”, kata Ibu.
“Kok Ibu yakin sekali mereka menyukaiku?”.
“Herman. Ibu ini seorang wanita!”, kata Ibuku.
Aku hanya tertegun. Instink seorang wanita seperti Ibuku memang harus aku percaya.
“Wah Bu, aku harus istiqoroh!. Tidak bisa menentukan sekarang!”, kataku kebingungan.
“Ya sudahlah kamu sholat istiqoroh mohonlah kepada Allah dan pilihlah yang terbaik menurut PetunjukNya!”, kata Ibu.
“Herman memilih jodoh bukan hal yang mudah. Jangan lupa pilihlah berdasarkan kualitas agamanya dan yang seiman denganmu!”, tiba-tiba suara Bapak menambahkan dalam dialog hangat ini.
“Ya Pak insya Allah!”, kataku pendek. Benar Bapakku memilih jodoh bukan hal mudah. Harus selektif karena istriku nanti akan melahirkan anak-anakku. Ibarat bahan baku harus kualitas prima. Kualitas nomor satu sehingga keturunan yang dilahirkan adalah pribadi-pribadi dengan karakter nomor satu. Lho aku sendiri apakah sudah kualitas nomor satu?. Pusing juga memikirkannya karena masih banyak juga yang harus aku benahi. Memang sih aku anak seorang Ulama tapi yang Ulama kan Bapakku. Aku sendiri hanya seorang anak yang masih butuh bimbingan orang tua. Bapak dan Ibu adalah Panutan dalam hidupku dan aku sangat patuh kepada mereka. Ya memilih calon istri harus banyak pertimbangan.
Tidak terasa liburan di kampungku harus berakhir karena tugas-tugas sudah menunggu di Surabaya. Sepagi ini aku sudah menemani dokter Wili, seniorku dalam tugas operasi seorang Pasien yang mengalami patah tulang akibat kecelakaan di jalan raya. Selama hampir tiga jam itu aku fokus dalam tugas tersebut dan Alhamdulillah operasi tersebut berjalan lancar dan sukses. Siang itu saat istirahat aku meninggalkan Rumah sakit menuju Kantin fakultas untuk makan siang. Saat itu aku dikejutkan oleh kedatangan Mutiara di Kantin itu. Mutiara sudah tahu kalau setiap siang aku biasa makan di Kantin Fakultas.
“Mas Herman sudah mulai aktivitas di Rumah Sakit?”.
“Iya Tiara. Ayo kita makan siang sama-sama!”, ajakku dan Mutiara duduk satu meja bersamaku lalu dia memesan semangkok bakso dan segelas jus jambu.
“Mas ada kabar baik!”, kata Mutiara.
“Alhamdulillah kabar baik apa Tia?”, tanyaku.
“Revisi skripsiku sudah ditanda tangani Pembimbing dan Bulan depan aku sudah bisa Wisuda!”, kata Mutiara dengan suara gembira.
“Tiara selamat ya!”, kataku. Aku mengulurkan tanganku untuk menyalaminya.
“Terima kasih Mas Herman. Ada satu lagi kabar baik dan membahagiakan!”.
“Wah hari ini aku banyak menerima kabar baik dari Tiara nih!”, kataku. Mutiara hanya tersenyum.
“Ricki sudah tertangkap Polisi!”, kata Mutiara.
“Lho Tiara kok bisa?. Siapa yang lapor Polisi?”.
“Aku Mas. Saat itu aku juga akhirnya harus cerita kepada mbak Bunga. Semua sudah aku ceritakan kepadanya!”, kata Mutiara.
“Termasuk cerita kelam itu?”, tanyaku.
“Iya Mas. Tidak apa-apa kini aku semakin merasa banyak orang yang peduli kepadaku termasuk mbak Bunga. Dia gadis yang baik penuh perhatian. Saat dia mendengar ceritaku, mbak Bunga menangis!”, kata Mutiara.
Ya Allah betapa indah skenario yang Kau rancang. Aku tidak perlu menanggung beban dengan bercerita masa lalunya Mutiara kepada Bunga. Jauh lebih baik Mutiara sendiri yang bercerita kepada Bunga. Hal itu bisa terjadi hanya karena kasus penganiayaanku oleh Ricki. Hal yang membuat aku lega, Bunga ternyata menaruh simpati kepada Mutiara walaupun aku sudah menduga sebelumnya. Polisi pasti dengan mudah akan menangkap Ricki yang ruang lingkup operasinya hanya di sekitar Kampus-kampus Surabaya.
“Kalau mbak Bunga tidak mendukungku untuk lapor Polisi mungkin Ricki tidak akan tertangkap!”, kata Mutiara.
“Tiara biarlah semua kasus ini kita serahkan kepada yang berwajib!”, kataku.
“Iya Mas. Aku juga sangat terkesan dengan kebaikan mbak Bunga. Selalu memberiku semangat untuk bangkit!”, kata Mutiara.
“Mas Herman…..!”, kata Mutiara tapi kemudian terdiam tidak melanjutkan kalimat berikutnya.
“Ya Tia kenapa kok jadi diam!?”, tanyaku sambil menunggu kalimat apa yang akan diucapkan wanita yang kukagumi ini.
“Aku merasakan mbak Bunga itu mencintaimu Mas?”.
“Waduh masa sih, kok Tia bisa tahu?”, kataku terkejut. Aku betul-betul terkejut seperti disambar petir.
“Mbak Bunga banyak bercerita tentang kebaikan Mas Herman dan juga keakraban masa-masa sekolah dulu. Mbak Bunga sangat mengagumimu!”, kata Mutiara dengan suara pelan.
“Ah Tiara ada ada saja. Bunga itu juga terlalu lebay!”, kataku mencoba menetralisir dialog ini walaupun aku sebenarnya senang juga mendengar cerita yang belum pernah ku dengar sebelumnya. Apalagi tentang Bunga. Benar apa kata Ibu dan sekarang Mutiarapun mengatakan bahwa Bunga mencintaiku. Namun benarkah demikian?. Aku tidak berani memastikan jangan-jangan ini hanya kesan sepintas saja Mutiara terhadap Bunga. Sebagai seorang sahabat sejak SMP, Bunga tentu saja akan bercerita tentang apa saja yang berhubungan denganku. Hal yang wajar bukan?. Lalu kenapa Mutiara membuat kesimpulan kalau Bunga mencintaiku?. Apakah hal ini untuk menyembunyikan rasa cemburu Mutiara terhadap Bunga?.
Waduh jadi rumit begini ya. Sekarang apa sebenarnya yang sedang aku rasakan?. Aku ini sebenarnya mencintai siapa sih?. Ibarat sebuah lukisan mungkin saat ini aku sedang merancang sketsa-sketsa cinta untuk dirampungkan menjadi sebuah lukisan yang indah.

BERSAMBUNG