Saturday, April 16, 2016

EPISODE CINTA DAISY LISTYA (13)


Foto Hensa



Tantangan 100 Hari Menulis Novel FC
EPISODE CINTA DAISY LISTYA
Oleh Hendro Santoso (Peserta Nomor 27)
Sinopsis
Alan Erlangga adalah sosok yang selama 20 tahun merasa kehilangan Diana Faria, kekasihnya yang harus dipanggil oleh Yang Maha Punya hanya seminggu sebelum hari perkawinan mereka. Merasa kehilangan selama 20 tahun adalah waktu yang lama. Ternyata ALLAH telah mengirim seorang gadis bernama Daisy Listya untuk menggugah hati Alan Erlangga. Daisy Listya adalah seorang gadis cantik, cerdas, berkepribadian luhur, memiliki prinsip hidup, berhasil membuka dan mencairkan kebekuan hati seorang Alan Erlangga. Listya ini yang telah menyadarkannya dari mimpi buruk panjang. Mungkin saja Daisy Listya memang nantinya bukan menjadi teman hidupnya karena seusai Wisuda Sarjana, Listya akhirnya bertunangan dengan pria yang mencintainya bahkan sampai menuju jenjang pernikahan. Menghadapi kenyataan ini Alan Erlangga tidak mampu berbuat apa-apa. Alan hanya pasrah. Cukup baginya bahwa Daisy Listya adalah gadis yang telah mampu membuka hatinya menjadi merasa hidup kembali. Ada pepatah bahwa mencintai itu tidak harus memiliki. Benarkah cinta itu menjadi sangat tinggi nilainya ketika harus mencintai tapi tidak harus memiliki?. Ditengah-tengah kegalauannya tiba-tiba hadir sahabat lamanya bernama Kinanti Puspitasari. Seakan hadir untuk menentramkan hatinya. Saat ini Kinanti memiliki seorang putri yang sedang beranjak remaja. Wanita ini membesarkan putri semata wayangnya sendirian karena suaminya sudah lama meninggal dunia. Kinanti adalah teman Alan sewaktu mereka SMA dan diusia yang sudah tidak muda lagi mereka kembali bertemu. Bagi Alan masa-masa SMA bersama Kinanti begitu indah untuk dikenang karena Alan waktu itu pernah juga jatuh cinta kepada Kinanti walaupun ternyata Kinanti hanya menganggapnya seorang sahabat.
Kepada siapa akhirnya Alan Erlangga melabuhkan hatinya?. Apakah kepada Daisy Listya seperti harapan cintanya selama ini?. Apakah kepada Kinanti?. Simak saja cerita episode demi episode dari Episode Cinta Daisy Listya.





Episode 13

AWAL DARI SEBUAH AKHIR

Sampai saat ini Kinanti masih sering menghubungiku melalui ponsel. Biasanya pada malam hari diatas pk. 22 Kinanti menelpon dan kami akan mengobrol cukup lama. Kinanti memang butuh teman untuk menerima curahan hatinya. Menurut dia hanya aku yang dapat mendengar dan mengerti bagaimana perasaannya yang sedang rapuh ini. Tentang Eko Priotomo rekan sesama Dosen yang bermaksud ingin melamarnya, Kinanti akhirnya sudah memutuskan untuk tidak bersedia dilamar.
“Ya Kinan memang harus tegas jika tidak katakan  tidak jika ya katakan ya. Aku jarang menemukan wanita setegas dirimu!” kataku memuji Kinanti.
Mendengar berita ini anehnya kok hatiku merasa lega seolah olah aku tidak jadi kehilangan Kinanti. Aneh ya he he he.
“Hai Alan aku kok merasakan nada bicaramu seperti bersorak gembira karena aku menolak lamaran Mas Eko?” kata Kinanti mulai bercanda.
“Hah apa betul?  Mungkin juga ya mungkin juga tidak namun jujur saja mendengar berita ini aku seperti menemukan kembali sahabatku yang hilang!” kataku serius.
“Memang sahabatmu hilang dimana?” tanya Kinanti menggoda. Mendengar ini aku hanya tertawa dan Kinantipun ikut dalam tawa yang lepas.

Aku merasakan beban Kinanti sepertinya sudah lepas seakan kini Kinanti kembali terbang bebas dan bisa sekehendak hatinya untuk hinggap di manapun yang dia inginkan. Akankah dia mau hinggap di hatiku?. Mungkinkah Kinanti mau membukakan hatinya untukku?. Lalu apakah aku sudah begitu rela melepaskan harapanku kepada Daisy Listya?. Aku harus berpijak dan bersikap pada realita. Listya itu sudah menikah dengan Rizal sedangkan Kinanti sedang menyendiri. Fakta inilah yang harus aku wujudkan. Setiap aku berfikir seperti itu setiap itu pula aku selalu ingat apa yang dikatakan Kinanti dan juga apa yang pernah dikatakan Listya.
“Bagi saya sendiri ada hal yang saya tidak tahu apakah ini takdir saya. Apakah saya boleh berdoa untuk mendapatkan takdir yang lain? Apakah dengan berdoa untuk mendapatkan takdir yang lain saya akan mendapatkan peringatan dari Allah?”
Demikian kata kata Listya yang selalu terngiang ditelingaku. Listya mengharapkan takdir yang lain bukan takdir menjadi istri Rizal Anugerah?. Takdir yang lain itu takdir yang mana?. Listya tidak berbahagia dalam bahtera rumah tangganya. Aku sendiri tidak tahu harus berbuat apa?. Mungkin hanya sebatas memberi rasa simpati dan nasihat agar Listya bisa selalu bersabar. Hal itu memang tindakkan yang logis dan etis kulakukan tidak boleh lebih jauh mencampuri urusan rumah tangga Listya. Namun yang aneh justru Kinanti punya keyakinan bahwa Listya sangat mencintaiku. Kinanti selalu mendorongku untuk selalu memiliki harapan terhadap Listya. Kinanti terlalu pandai menyembunyikan perasaannya sendiri terhadapku. Aku sendiri memang tidak bisa menebak bagaimana perasaan Kinanti. Demikian pula perasaan Listya. Aku malah bertambah terharu ketika Listya menyimpulkan sendiri bahwa orang yang telah menggugah hatiku yang beku selama dua puluh tahun itu adalah Kinanti. Listya selalu memberiku semangat agar segera menikahi Kinanti.

Ya Allah aku sedang berhadapan dengan dua wanita yang sangat luhur budi. Kinanti Puspitasari dan Daisy Listya. Kecantikan kalian adalah kecantikan yang paripurna.
Di ruang kerjaku itu aku masih termenung. Di hadapanku laptop Jepang itu masih ternganga minta disuapin sesuap dua suap kalimat namun tetap saja masih kubiarkan seperti itu. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan suara lembut mengucapkan salam.
“Wa alaikum salaam! Silahkan masuk!” kataku. Ketika pintu terbuka aku melihat Listya berdiri di sana dengan wajah yang muram.
“Maaf Pak Alan, bolehkah saya masuk?” tanya Listya.
“Listya silahkan duduk!” kataku mempersilahkan untuk duduk di sofa itu.
Listya berjalan menuju sofa kemudian dia mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya lalu menyerahkannya  kepadaku. Aku menerima amplop tersebut. Sebuah amplop coklat ternyata berisi beberapa foto. Aku buka satu persatu foto foto itu. Sungguh aku terkejut melihat foto foto itu. Foto foto itu memuat Audray dan aku sedang bercengkrama di sofa ruang tamu Rumah Audray. Aku benar-benar terkejut apalagi melihat phose-phose Audray yang sangat berani dalam foto itu. Dalam foto itu aku sendiri dalam keadaan tertidur.

Ya Tuhan aku baru ingat suatu hari pernah singgah di rumah Audray waktu itu aku memang pernah tertidur karena kelelahan. Apakah saat itu Audray mengambil kesempatan untuk berfoto seperti ini. Lalu apa maksudnya foto foto ini diberikan kepada Listya?. Kulihat Listya masih menatapku tajam. Aku benar benar tidak berdaya menghadapi tatapan mata Listya.
“Listya percayalah saya tidak pernah melakukan seperti apa yang ada dalam foto ini. Apakah foto foto ini dari Audray?” tanyaku.
“Bukan pak Alan, foto foto ini dikirimkan lewat post ke rumahku. Saya seperti tidak percaya melihat foto foto ini. Saya tidak tahu bagaimana perasaan Bu Kinan melihat foto foto ini. Saya tidak mengira pak Alan mau berbuat seperti ini!” suara Listya sambil menangis.
Ya Tuhan kenapa jadi begini. Foto foto itu lalu kembali kumasukkan dalam ampol coklat itu. Kok seperti dalam sinetron saja. Sungguh benar benar mumet, pusing halaaahhh.
“Listya sekali lagi percayalah saya tidak melakukan hal tersebut. Demi Allah saya bersumpah!” kataku benar-benar bersumpah dengan Nama Allah. Jalan satu-satunya untuk meyakinkan Listya memang harus bersumpah atas Nama Allah karena memang aku tidak pernah berbuat. Listya masih menangis tersedu. Aku harus bertemu dengan Audray. Aku yakin saat itu aku diambil fotonya secara diam-diam tanpa sepengetahuanku. Tentu saja aku saat itu sedang tertidur. Benar apa kata Listya andai Kinanti melihat foto foto tersebut entah bagaimana sikapnya kepadaku. Di ruanganku Listya tidak banyak bicara dan setelah tangisnya reda, sebentar kemudian Listya berpamitan. Tinggalah disana aku sendiri dalam kegusaran gara gara foto foto Audray.

Sore itu aku memutuskan untuk menjumpai Audray di rumahnya. Seperti biasa gadis ini menyambutku dengan sangat berlebihan. Aku tetap bersikap biasa.
“Rupanya Profesor kangen sama Audray ya?” kata Audray sambil tangannya meraih pundakku dan dengan sopan kutepiskan tangan Audray.
“Langsung saja ke topik utama Di. Okey?” kataku.
“Wah Topik apa nih?” tanya Audray. Aku segera mengeluarkan amplop coklat berisi foto foto itu. Kulihat Audray membuka amplop dan mengamati foto foto itu. Wajahnya terlihat pucat dan mulai kelihatan ada rasa gugup di wajahnya.
“Bapak dapat dari mana?” tanya Audray.
“Dari Listya!” kataku. Audray tertunduk lalu perlahan foto foto itu kembali di masukkan ke dalam amplop.
“Maafkan saya pak Alan. Saya hanya ingin membuat Listya menjauhi pak Alan. Setiap pembicaraan dengannya, Listya selalu mengatakan bahwa pak Alan adalah orang yang paling dia kagumi. Hal ini yang membuatku panas!” kata Audray dengan suara hampir tak terdengar.
“Di lalu foto foto itu kapan kamu buat?” tanyaku.
“Sewaktu Pak Alan tertidur di sini. Maafkan saya Pak” kata Audray polos. Aku kagum juga dengan kejujurannya. Gadis ini memang posesif sekali namun sebenarnya hatinya jujur. Tapi perbuatannya itu telah meruntuhkan rasa kepercayaanku.
“Okey sekarang saya minta tolong kamu harus jelaskan kepada Listya kejadian yang sebenarnya agar nama saya tidak tercemar seperti ini!” kataku.
“Baik pak Alan. Besok saya akan bicara dengan Listya. Sekali lagi maafkan saya pak. Bagi saya Listya itu wanita lembut yang sempurna. Saya sangat iri kepadanya. Listya sangat mengagumi pak Alan bahkan mungkin dia mencintai pak Alan!” kembali suara Audray agak sendu.
Nanti dulu, apa tidak salah dengar apa yang dikatakan Audray tadi. Listya mencintaiku? Ketika aku ingin menanyakan lebih lanjut kepada Audray kenapa dia bilang, mungkin Listya mencintaiku?. Namun  aku urungkan. Aku tidak mau lagi berlarut larut dengan perasaanku yang selalu gundah tentang Listya. Biarlah jawabannya aku dapatkan sendiri nanti, ya nanti entah kapan.

Kejadian ini benar benar membuatku harus berhati hati dalam bergaul terutama dengan Audray. Rasa percayaku sudah hilang padanya. Sore itu ketika di rumah Audray akupun meminta rekaman digital dari foto foto tersebut lalu kumusnahkan termasuk foto foto yang sempat dicetak itu. Tidak pernah mau aku bayangkan andai Kinanti melihat foto foto itu. Listya saja sudah seperti itu marahnya kepadaku, marah dalam bentuk tangisan dan tatapan mata kesedihan. Begitukah cara marah wanita yang berhati mulia.

Hari ini jadwalku cukup padat, selain mengisi kuliah di program profesi Apoteker juga ada kelas di Pasca Sarjana sampai sore. Baru pukul 17 kurang seperempat aku kembali menuju Ruanganku di Lantai dua Fakultas Farmasi. Segera saja aku berkemas untuk pulang. Suasana Kampus sudah mulai sepi. Aku menuju tempat parkir.   Kunyalakan mobilku dan di sore yang cerah itu ternyata tidak bisa mengurangi rasa lelahku. Terutama rasa lelah psikis.  Seakan sudah menjadi rutinitasku mobil ini meluncur di jalan raya dengan rute yang sama seperti hari hari yang lalu. Rutinitasku di tengah tengah kemacetan. Rutinitasku di rumah yang hanya ditemani Si Mbok seorang pembantu tua yang sudah lama ikut denganku. Kadang ada kejenuhan yang hinggap namun segera saja ku usir jauh jauh. Aku harus menyadari itulah hidup. Dari malam ketemu malam lagi. Dari pagi ketemu pagi lagi.  Dari Kampus ketemu Kampus lagi dan sampailah dipagi yang cerah ini aku sudah duduk manis di ruanganku sambil menyusun agenda hari ini. Tiba-tiba ponselku berbunyi.
“Assalaamu alaikum..Pak Alan!” suara Listya diseberang sana.
“Wa alaikum salaam..Listya ya!” kataku.
“Apakah nanti siang ada waktu luang, saya ingin ketemu Bapak!” tanya Listya.
“Siang nanti? Iya ya ada waktu boleh Listya ketemu saya tapi ketemunya di Lab HPLC saja karena mulai jam sembilan ini saya di sana. Okey saya tunggu di sana Ya Lis!” kataku.
“Baik pak terima kasih!” suara Listya lembut.
Aku sudah bisa menduga Listya akan membicarakan masalah foto foto itu. Mudah-mudahan Audray sudah memberikan klarifikasinya. 

Laboratorium HPLC ini penuh dengan cerita. Di sini dulu aku bercerita tentang Diana Faria kepada Listya. Di sini pula pertama kali aku bertemu Listya sebagai mahasiswi S1 bimbinganku. Siang itu di Laboraorium HPLC ada dua orang mahasiswa yang baru saja merampungkan pekerjaannya untuk sampel-sampel penelitian mereka  sehingga di sana kini hanya tinggal aku dan Listya. Seperti dugaanku semula Listya minta maaf atas kejadian kemarin. Audray sudah menjelaskan semuanya dan nampak ada kelegaan dalam hati Listya. Hal ini aku lihat dari raut wajah wanita ini.
“Pak Alan memang saya tidak akan pernah bercerita tentang foto foto itu kepada Bu Kinan. Apalagi sekarang foto foto itu sudah dimusnahkan oleh Pak Alan!” kata Listya.
“Terima kasih Listya atas pengertianmu. Bu Kinan memang tidak perlu tahu” kataku.
“Pak Alan saya juga minta maaf sudah berfikir yang tidak tidak karena foto foto itu!”  kata Listya.
“Sudahlah Listya, kita akhiri saja persoalan ini tidak usah kita ungkit lagi. Bagi saya kejadian itu adalah kecelakaan yang benar-benar mencemarkan nama baik saya!” kataku. Listya meng iya kan sambil tersenyum manis. Rasanya sudah lama aku tidak pernah menikmati senyum manis Listya.
“Pak Alan ingat enggak pertama kali Bapak membimbing saya di ruangan HPLC ini. Juga ketika Pak Alan bercerita tentang mbak Diana Faria dan kita diskusi tentang rasa memiliki?” kata Listya.
“Tentu saja Listya, tidak mungkin saya melupakan semua yang terjadi di ruangan HPLC ini. Banyak ceritanya!” kataku.
“Ada satu hal lagi Pak. Di ruang ini juga sewaktu Bapak bercerita tentang orang yang menggugah hati Bapak. Waktu itu Bapak tidak mau mengatakan siapa dia eh saya tidak menyangka ternyata orangnya adalah Bu Kinanti!” kembali suara Listya.
Aku tertegun beberapa saat mendengar pernyataan Listya. Rasanya aku ingin berteriak dan mengatakan yang sebenarnya kepada Listya. Ya Allah apakah ini saatnya aku berterus terang kepadanya. Aku harus jujur kepadanya sekaligus jujur kepada diriku sendiri. Setelah aku mengatakan isi hati ini aku harus mampu mengendalikan diriku dan kembali kepada realita.
“Pak Alan kenapa melamun?” suara Listya mengagetkanku. Aku memandang wanita cantik ini dengan rasa kagum.
“Listya!”  kataku memandangnya dan Listya juga menatapku. Ya Allah mata itu mata Diana Faria. Aku seakan berhadapan dengan Diana Faria. Betapa cintaku padanya tidak pernah luntur oleh waktu dan hanya Daisy Listya ini yang telah mengajakku kembali kepada kenyataan.
“Saya ingin mengatakan sesuatu!” kataku sambil kupegang kedua tangannya. Listya hanya menatapku penuh haru seakan akan dia seperti sudah tahu apa yang mau kukatakan.
“Saya ingin mengatakan kepadamu siapa yang telah menggugah hati yang selama ini tertidur dua puluh tahun!” kataku perlahan. Listya masih terdiam menatapku. SubhanAllah aku begitu dekat menatap wajahnya. Kecantikan wajah berbalut jilbab dari wanita di depanku ini sungguh menakjubkan. Wajah yang teduh membawa kedamaian hati. Allah memang Maha Pencipta.
“Orang yang telah menggugah hati saya itu bukan Kinanti Puspitasari. Dia adalah seorang wanita yang lembut hatinya, ramah dan santun tutur katanya, manis senyumnya. Wajahnya memiliki aura kecantikan yang tulus dan sekarang orangnya ada di depanku ini!” kataku sambil kutatap tajam Listya.
Aku melihat bibir Listya menyebut namaku pelan, pelaaaan sekali. Ada setitik butir air mata jatuh ke pipinya. Listya masih memandangku dengan mata yang berkaca-kaca.
“Pak Alan apakah saya sedang bermimpi?” kata Listya.
“Tidak Listya. Dari sejak pertama saya bertemu saya seakan sudah menemukan pengganti Diana Faria. Dulu pertama kali bertemu denganmu saya sudah menjadi pengagummu!” kataku.
“Pak Alan kenapa Bapak baru mengatakannya sekarang? Kenapa pak Alan!” Listya mulai terisak.
“Saya juga mengagumi pak Alan dari sejak pertama bertemu pada kuliah pertama dulu!” kata Listya.
“Maafkan saya Listya dengan kejujuran ini. Saya sangat menyadari cinta saya ini tidak mungkin terwujud karena Listya sudah menjadi milik orang lain!” kataku.

Listya masih terisak entah apa yang dirasakannya sekarang setelah mendengar bahwa aku memang mencintainya. Ada rasa sesal yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Bolehkah aku be andai andai jika dulu aku sudah mengatakan cintaku padanya apakah Listya ditakdirkan menjadi istriku?. Pertanyaan yang jawabannya juga tidak mudah.
“Pak Alan sesungguhnya cinta itu mulai tumbuh saat saya menjadi mahasiswi bimbingan Bapak. Sejak saya tahu kalau Bapak ternyata masih sendiri. Saya juga bisa merasakan perhatian Bapak begitu besar kepada saya. Waktu itu banyak mimpi yang ingin saya raih banyak harapan yang ingin saya dapat tapi ternyata saya hanya mendapatkan takdir yang sekarang ini harus saya jalani!” kata Listya berusaha tegar.

Aku benar-benar tertegun dan membisu. Tak kuasa rasanya aku harus berkata apa. Sungguh tidak pernah aku bayangkan akan seperti ini jadinya.
“Pak Alan kita harus tegar menghadapi kenyataan ini biarlah cinta kita tertulis dalam catatan Malaikat Roqib. Daisy Listya juga harus ikhlas menerima takdirNya menjadi istri Rizal Anugerah!” suara Listya nampak tabah namun aku melihat mata itu masih penuh dengan butir air mata kepedihan.
“Pak Alan maukah Bapak memenuhi satu permintaan saya?” kata Listya.
“InsyaAllah Lis. Apa itu?” tanyaku.
“Menikahlah dengan Bu Kinanti. Hanya ini pak yang bisa mengobati rasa pedihnya hati saya. Pak Alan harus tahu biarkan cinta saya terwakili oleh Bu Kinan!” Listya semakin terisak.

Maka sore itu jiwaku begitu pedih harus menghadapi kenyataan ini. Aku pulang dengan membawa kepedihan yang dalam. Di tengah kemacetan arus lalu lintas kota Surabaya, lagu Air Supply-Goodbye dari tape mobilku, mengalun merdu namun memilukan hati.
I would rather hurt myself. Than to ever make you cry. There's nothing left to try. Though it's gonna hurt us both. There's no other way than to say good-bye.
Malam itupun aku tidak bisa memejamkan mataku hingga dini hari. Kinanti dan Listya selalu berganti ganti memenuhi pikiranku. Aku harus kembali berpijak pada fakta apalagi bila kuingat apa yang dikatakan Listya : “Pak Alan kita harus tegar menghadapi kenyataan ini biarlah cinta kita tertulis dalam catatan Malaikat Roqib. Seorang Daisy Listya juga harus ikhlas menerima takdirNya menjadi istri Rizal Anugerah!”
Biarlah cinta kita tertulis dalam catatan Malaikat Roqib. Ya Allah betapa luhur budi dan hati Listya. Aku teringat Daisy Listya sedang menulis novel yang judulnya masih dirahasiakan. Mungkinkah ini bagian akhir dari novelnya atau masih awal dari sebuah akhir.

Sungguh sungguh aku benar benar tidak tahu.


BERSAMBUNG Episode 14

No comments: